A story by Maya Gene Carterr
Malam,
27 November 2005. Kriiing….”Hmm, jam berapa ini?”, ku lirik jam dinding
04.00 WIB. Siapa yang meneleponku, menjelang pagi begini. Maya, sahabat
terbaikku, membuatku terhenyak, terperanjat, dan entah apalagi, bukan
karena teleponnya yang menjelang pagi, tapi cerita yang dituturkannya.
Ia benar-benar membuatku terjaga, hilang kantukku seketika.
Tengah malam tadi suaminya mengakui sesuatu. Ia berselingkuh dengan
teman kerjanya, teman seprofesiku dan teh mpiet (panggilanku kepada
maya). Teman kami bertiga. Allah….betapa berat ujian teh mpiet. Yang
lebih mengagetkan lagi adalah reaksi teh mpiet, tenang luar biasa, ia
hanya bertanya “apa kamu mencintai wanita itu mas?”,Tanpa berteriak,
tanpa memaki, tanpa memukul. Ia juga tak bertanya “apa
salahku?...bagaimana mungkin itu terjadi?...masih kurangkah segala
pengorbananku untukmu dan keluarga ini?...”. Ismail tersungkur,
bersimpuh dihadapannya ”tidak!...aku tidak mencintainya, saya khilaf.
Sungguh piet, maafkan saya”, jawab suaminya. Maya pergi meninggalkan
suaminya, berwudhu dan shalat malam. Saat shalat itulah ia tak kuasa
lagi menahan semuanya, rasa sakit di hatinya, perih, terlalu pedih
hingga ia tak lagi dapat merasa lagi. Menangis.
Tak dapat ku
bayangkan apa yang tengah berkecamuk di dadanya. Tapi, aku bisa
merasakan betapa hancur hatinya, terluka jiwanya, terlecehkan harga
dirinya sebagai seorang ibu, seorang wanita, dan seorang istri. Entah
apalagi kata yang dapat melukiskan betapa perih luka hatinya saat itu.
Aku juga bisa merasakan betapa indahnya sholat maya waktu itu,bersimpuh
tidak berdaya,berlinang airmata….begitu syahdunya saat ia bertemu, dan
berbincang dengan sang Khalik, Yang Maha Mengetahui apa yang kelak
terbaik untuknya dan dua buah hati mereka. Betapa Allah begitu
mencintainya dengan memberinya cobaan yang sedemikian dahsyat. Dalam
tangis ia berseru ”Allah …..jadikan hatiku sabar dan ikhlas menerima
semua ketentuanMU, berikan jalan keluar sebaik baiknya jalan keluar
dariMu, untukku, anak-anakku, suamiku terkasih,perempuan itu dan janin
yang ada di rahimnya”
Tak terkirakan, tak terkatakan sakitnya
dikhianati. Begitu pilu dan nelangsanya hatiku mendengarnya. Aku
teringat kata-katanya “ sabar adalah jalan keluar dari suatu masalah
yang belum ada jalan keluarnya dan ikhlas membuat kita sanggup melangkah
dengan ringan”. Jangan pernah berpikir pisah saat ada masalah, pikirkan
saja saat engkau jatuh cinta padanya, saat hatimu dipenuhi rasa rindu
padanya. ALLAH tidak pernah tidur, Dia hanya memperlihatkan kasihNya
dengan cara yang tidak terduga. Ikhlas saja ketika ALLAH menjawab dengan
suka maupun duka.
“Terima kasih sudah mau mendengarkan, aku
minta tolong satu hal padamu”. Pinta Maya saat ia mengakhiri ceritanya,
mana mungkin aku sanggup menolak. “Jangan pernah merasa kasihan padaku,
berjanjilah Mina! Karena aku menginginkan hanya ALLAH yang mengasihiku”.
Dua minggu kemudian, Maya datang menemuiku, dengan wajah tersenyum!.
“Aku memutuskan untuk memaafkan mereka, aku akan belajar untuk
melupakan sakitnya”. Hhhhhh…..aku hanya sanggup menarik nafas panjang
perlahan, terasa sesak di dada. “Mengapa kamu tidak marah May?” tanyaku
memberanikan diri. “Untuk apa marah Mina? Semua sudah terjadi, aku tidak
mungkin merubahnya. Sempat aku berharap semua ini hanya mimpi, mimpi
terburuk yang pernah ada dan aku bisa mengubahnya dengan segera bangun
dari tidur”, jawabnya, masih dengan senyum di bibir.
“Ini pasti
teguran dari ALLAH, karena rasa cintaku pada Ismail terasa berlebihan,
dibandingkan dengan rasa cintaku pada ALLAH. ALLAH pasti cemburu padaku,
maka ALLAH memberikan kasih sayangNya padaku dengan cara seperti ini”,
Maya terdiam sebentar, mengatur kata. “Suamiku hanya manusia biasa,
perempuan itu juga, begitu juga aku. Hidup ini penuh dengan pilihan
sulit….hmm, dan bukankah setiap pilihan yang kita ambil selalu berikut
dengan konsekuensinya. Aku tahu konsekuensi apa yang harus kujalani saat
aku memutuskan, memaafkan mereka, merelakan suamiku menikahi perempuan
itu saat bayinya sudah lahir, menerima suamiku kembali saat ia masih
beristrikan perempuan itu atau menceraikannya, itu...terserah Ismail”,
lanjutnya.”Tapi itu tidak ada apa-apanya disbanding aku harus berpisah
dengannya, lalu harus menyaksikan anak-anakku menderita karena terpisah
dari orang tuanya. Aku tahu, aku akan hidup dengan bayang-bayang
pengkhianatan mereka, tapi aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku hanya
untuk itu. Aku hanya berharap bisa bahagia Mina. Apapun, bagaimanapun
keadaannya nanti. Aku ingin keluargaku utuh, anak-anakku hanya hanya
akan punya satu ayah dan satu bunda untuk selamanya. Aku berusaha
membuang jauh sakitnya. Aku masih meminta satu hal padamu sahabat,
tolong doakan aku untuk semua itu” pintanya. Airmatanya tidak terlihat,
ia memelukku erat sekali, seakan enggan untuk melepaskanku. Maya
sahabatku dari kecil, ia sudah seperti kakak bagiku.
Hari itu
terakhir kali aku berjumpa dengan Maya, teteh Mpietku. Aku tidak kasihan
padanya. Aku bangga!. Saat aku hanya bisa berkata sabar dan ikhlas,
Maya sudah mempunyai dua kata itu dalam hatinya, di jiwanya, yang
membuatnya masih bisa tersenyum dalam duka. Semoga ALLAH selalu
melindungi mereka, dimanapun mereka berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar