Rabu, 18 Januari 2012

KISAH PILU MENJELANG PAGI

A story by Maya Gene Carterr 

Malam, 27 November 2005. Kriiing….”Hmm, jam berapa ini?”, ku lirik jam dinding 04.00 WIB. Siapa yang meneleponku, menjelang pagi begini. Maya, sahabat terbaikku, membuatku terhenyak, terperanjat, dan entah apalagi, bukan karena teleponnya yang menjelang pagi, tapi cerita yang dituturkannya. Ia benar-benar membuatku terjaga, hilang kantukku seketika.

Tengah malam tadi suaminya mengakui sesuatu. Ia berselingkuh dengan teman kerjanya, teman seprofesiku dan teh mpiet (panggilanku kepada maya). Teman kami bertiga. Allah….betapa berat ujian teh mpiet. Yang lebih mengagetkan lagi adalah reaksi teh mpiet, tenang luar biasa, ia hanya bertanya “apa kamu mencintai wanita itu mas?”,Tanpa berteriak, tanpa memaki, tanpa memukul. Ia juga tak bertanya “apa salahku?...bagaimana mungkin itu terjadi?...masih kurangkah segala pengorbananku untukmu dan keluarga ini?...”. Ismail tersungkur, bersimpuh dihadapannya ”tidak!...aku tidak mencintainya, saya khilaf. Sungguh piet, maafkan saya”, jawab suaminya. Maya pergi meninggalkan suaminya, berwudhu dan shalat malam. Saat shalat itulah ia tak kuasa lagi menahan semuanya, rasa sakit di hatinya, perih, terlalu pedih hingga ia tak lagi dapat merasa lagi. Menangis.

Tak dapat ku bayangkan apa yang tengah berkecamuk di dadanya. Tapi, aku bisa merasakan betapa hancur hatinya, terluka jiwanya, terlecehkan harga dirinya sebagai seorang ibu, seorang wanita, dan seorang istri. Entah apalagi kata yang dapat melukiskan betapa perih luka hatinya saat itu. Aku juga bisa merasakan betapa indahnya sholat maya waktu itu,bersimpuh tidak berdaya,berlinang airmata….begitu syahdunya saat ia bertemu, dan berbincang dengan sang Khalik, Yang Maha Mengetahui apa yang kelak terbaik untuknya dan dua buah hati mereka. Betapa Allah begitu mencintainya dengan memberinya cobaan yang sedemikian dahsyat. Dalam tangis ia berseru ”Allah …..jadikan hatiku sabar dan ikhlas menerima semua ketentuanMU, berikan jalan keluar sebaik baiknya jalan keluar dariMu, untukku, anak-anakku, suamiku terkasih,perempuan itu dan janin yang ada di rahimnya”

Tak terkirakan, tak terkatakan sakitnya dikhianati. Begitu pilu dan nelangsanya hatiku mendengarnya. Aku teringat kata-katanya “ sabar adalah jalan keluar dari suatu masalah yang belum ada jalan keluarnya dan ikhlas membuat kita sanggup melangkah dengan ringan”. Jangan pernah berpikir pisah saat ada masalah, pikirkan saja saat engkau jatuh cinta padanya, saat hatimu dipenuhi rasa rindu padanya. ALLAH tidak pernah tidur, Dia hanya memperlihatkan kasihNya dengan cara yang tidak terduga. Ikhlas saja ketika ALLAH menjawab dengan suka maupun duka.

“Terima kasih sudah mau mendengarkan, aku minta tolong satu hal padamu”. Pinta Maya saat ia mengakhiri ceritanya, mana mungkin aku sanggup menolak. “Jangan pernah merasa kasihan padaku, berjanjilah Mina! Karena aku menginginkan hanya ALLAH yang mengasihiku”.

Dua minggu kemudian, Maya datang menemuiku, dengan wajah tersenyum!. “Aku memutuskan untuk memaafkan mereka, aku akan belajar untuk melupakan sakitnya”. Hhhhhh…..aku hanya sanggup menarik nafas panjang perlahan, terasa sesak di dada. “Mengapa kamu tidak marah May?” tanyaku memberanikan diri. “Untuk apa marah Mina? Semua sudah terjadi, aku tidak mungkin merubahnya. Sempat aku berharap semua ini hanya mimpi, mimpi terburuk yang pernah ada dan aku bisa mengubahnya dengan segera bangun dari tidur”, jawabnya, masih dengan senyum di bibir.

“Ini pasti teguran dari ALLAH, karena rasa cintaku pada Ismail terasa berlebihan, dibandingkan dengan rasa cintaku pada ALLAH. ALLAH pasti cemburu padaku, maka ALLAH memberikan kasih sayangNya padaku dengan cara seperti ini”, Maya terdiam sebentar, mengatur kata. “Suamiku hanya manusia biasa, perempuan itu juga, begitu juga aku. Hidup ini penuh dengan pilihan sulit….hmm, dan bukankah setiap pilihan yang kita ambil selalu berikut dengan konsekuensinya. Aku tahu konsekuensi apa yang harus kujalani saat aku memutuskan, memaafkan mereka, merelakan suamiku menikahi perempuan itu saat bayinya sudah lahir, menerima suamiku kembali saat ia masih beristrikan perempuan itu atau menceraikannya, itu...terserah Ismail”, lanjutnya.”Tapi itu tidak ada apa-apanya disbanding aku harus berpisah dengannya, lalu harus menyaksikan anak-anakku menderita karena terpisah dari orang tuanya. Aku tahu, aku akan hidup dengan bayang-bayang pengkhianatan mereka, tapi aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku hanya untuk itu. Aku hanya berharap bisa bahagia Mina. Apapun, bagaimanapun keadaannya nanti. Aku ingin keluargaku utuh, anak-anakku hanya hanya akan punya satu ayah dan satu bunda untuk selamanya. Aku berusaha membuang jauh sakitnya. Aku masih meminta satu hal padamu sahabat, tolong doakan aku untuk semua itu” pintanya. Airmatanya tidak terlihat, ia memelukku erat sekali, seakan enggan untuk melepaskanku. Maya sahabatku dari kecil, ia sudah seperti kakak bagiku.

Hari itu terakhir kali aku berjumpa dengan Maya, teteh Mpietku. Aku tidak kasihan padanya. Aku bangga!. Saat aku hanya bisa berkata sabar dan ikhlas, Maya sudah mempunyai dua kata itu dalam hatinya, di jiwanya, yang membuatnya masih bisa tersenyum dalam duka. Semoga ALLAH selalu melindungi mereka, dimanapun mereka berada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar