Senin, 26 Januari 2015

Pesan Terakhir



Di luar gelap sekali, gelap pekat. Hingga aku tak dapat melihat sekelebat cahaya pun. Hanya terdengar bunyi roda KRL yang bergesekan dengan batalan rel. Kereta melaju sangat cepat, di dalam gerbong tak ada penumpang lain, hanya aku berdua dengan Irul. Tiba – tiba dia menggenggam tanganku, dan menyelipkan sebuah cincin di jari manisku. Aku menatapnya terkejut. Dia hanya tersenyum, membuat wajahnya yang bersih terlihat semakin bersinar.

“ Memangnya kak Irul mau kemana? Kenapa kasih Lenata cincin ini?” tanyaku.
“Kak Irul mau jalan – jalan, Lenata jangan nakal ya...” Bisiknya pelan, masih menatap wajahku dengan pandangan matanya yang teduh.
Aku menundukkan wajahku memperhatikan benda bulat berwarna putih yang melingkar di jari masihku. Suara Sirene Kereta meraung memecah kesunyian.
Aku tersentak, mengerjap ngerjapkan mataku dan melihat ke arah jam beker di atas meja. Jam 2.30 dini hari. Aku menghela nafas, ternyata hanya mimpi. Bunga tidur. Aku mencoba memejamkan mataku kembali, tapi hingga adzan subuh berkumandang, aku tak bisa tidur lagi. Rasa kantukku entah terbang kemana.