Di luar gelap
sekali, gelap pekat. Hingga aku tak dapat melihat sekelebat cahaya pun. Hanya
terdengar bunyi roda KRL yang bergesekan dengan batalan rel. Kereta melaju
sangat cepat, di dalam gerbong tak ada penumpang lain, hanya aku berdua dengan
Irul. Tiba – tiba dia menggenggam tanganku, dan menyelipkan sebuah cincin di
jari manisku. Aku menatapnya terkejut. Dia hanya tersenyum, membuat wajahnya
yang bersih terlihat semakin bersinar.
“ Memangnya kak Irul mau kemana?
Kenapa kasih Lenata cincin ini?” tanyaku.
“Kak Irul mau jalan – jalan,
Lenata jangan nakal ya...” Bisiknya pelan, masih menatap wajahku dengan
pandangan matanya yang teduh.
Aku menundukkan wajahku
memperhatikan benda bulat berwarna putih yang melingkar di jari masihku. Suara
Sirene Kereta meraung memecah kesunyian.
Aku tersentak, mengerjap
ngerjapkan mataku dan melihat ke arah jam beker di atas meja. Jam 2.30 dini
hari. Aku menghela nafas, ternyata hanya mimpi. Bunga tidur. Aku mencoba
memejamkan mataku kembali, tapi hingga adzan subuh berkumandang, aku tak bisa
tidur lagi. Rasa kantukku entah terbang kemana.