Siang itu aku membelah jalanan
kota yang lengang. Aku bersyukur keputusanku untuk menyepi di kota kecil ini
sangat tepat. Aku tak perlu stress bermacet – macet di jalan. Semua yang
kubutuhkan mudah ku jangkau. Suara ponselku berdering, memaksaku menepi. Belum
sempat ku ucapkan salam terdengar suara terisak – isak dari seberang.
“ Ranti...?” Tanyaku heran. Tak
biasanya dia menelponku di jam – jam seperti ini.
“ Ta, bisa ketempatku sekarang?
Aku butuh teman bicara...”
“ ya... “ jawabku singkat, seraya
menutup telpon dan tancap gas ke rumah Ranti.
Wanita muda itu duduk di
hadapanku, dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Aku hanya mampu
menatapnya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menanti isaknya mereda.