Sabtu, 30 Agustus 2014

Istana Pasir



Siang itu aku membelah jalanan kota yang lengang. Aku bersyukur keputusanku untuk menyepi di kota kecil ini sangat tepat. Aku tak perlu stress bermacet – macet di jalan. Semua yang kubutuhkan mudah ku jangkau. Suara ponselku berdering, memaksaku menepi. Belum sempat ku ucapkan salam terdengar suara terisak – isak dari seberang.
“ Ranti...?” Tanyaku heran. Tak biasanya dia menelponku di jam – jam seperti ini.
“ Ta, bisa ketempatku sekarang? Aku butuh teman bicara...”
“ ya... “ jawabku singkat, seraya menutup telpon dan tancap gas ke rumah Ranti.
Wanita muda itu duduk di hadapanku, dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Aku hanya mampu menatapnya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menanti isaknya mereda.

Di Balik Senyum Nindya



“ Apa?!” kamu ga bisa pulang lagi? Lembur lagi??” Suara Nindya meninggi, aku berusaha tak mendengarkan percakapan itu dengan focus menyetir. Jalanan mulai merayap hari ini. Maklum, sudah mendekati jam pulang kerja , dan akhir pekan pula.
“Mas... sudah dua minggu berturut – turut loh, mas ga pulang. Jangan perdulikan aku mas, tolong perhatikan perasaan anak – anak. Aku sudah biasa mas, tapi anak – anak. Perjanjian kita dulu gimana mas? Okelah senin sampai jum’at kamu disana, tapi sabtu dan minggu kamu wajib disini mas”
Suara Nindya makin melengking.

Senin, 25 Agustus 2014

Itik Buruk Rupa

Aku pernah mengalami yang namanya jadi angsa buruk rupa. Saat masih di Sekolah Dasar kelas V, Semua teman-teman sebayaku yang berumur 11 dan 12 tahun, sudah menjelma jadi gadis cantik, tinggi, montok dan berkulit putih. Aku hanyalah seorang anak perempuan yang kurus, tidak terlalu tinggi dan berkulit hitam. Sering di bully oleh anak lelaki. Dibilang "jelek, kurus dan hitam" aku hanya bisa pulang sambil menangis. Dan bertanya pada Allah kenapa aku tidak dikaruniai wajah seperti teman teman yang lain. Aku mengalami krisis percaya diri. Aku hanya berharap mereka menyukaiku apa adanya. Tidak membanding-bandingkan. Suatu hari, setelah 1 tahun aku di duduk bangku SMP dan tinggal di kota lain, aku pulang ke rumah, dan tak sengaja bertemu dengan orang tua si anak lelaki yang sering membully aku. Dan dia pun ada dia sana. Dengan wajah terkejut si bapak itu bertanya : "Kamu lenata kan? Wah sekarang sudah besar yah, sudah jadi gadis yang manis. Bapak sampai pangling sama kamu". Aku hanya bisa tersenyum. Dan sekilas kulihat dia tersenyum malu malu dengan wajah merona merah.
Keesokan harinya, dia selalu berusaha mendekatiku, dan mengajak teman temannya untuk menemuiku. Dan kudengar mereka membicarakan aku. Bahwa aku sekarang telah berubah menjadi seorang gadis yang manis. Dan aku disejajarkan dengan gadis gadis idola di kompleks :D
Tapiii... itu tidak berlaku untukku. Rasa sakit akibat penghinaan mereka dahulu tak pernah bisa kulupakan. Aku tak pernah menyambut perasaan mereka. Aku tak tertarik untuk bercinta-cintaan dgn orang yang pernah memandangku rendah.
Dan sekarang, didunia yang sudah dewasa, ternyata masih ada pembully pembully yang bisanya hanya berkomentar pedas. Tanpa pernah mau bercermin. Yaa... memang nasibku mungkin harus berteman dengan orang - orang yang lebih cantik dari aku. Jadi aku selalu dinilai minus. Tapi aku tak perduli. Setiap kekurangan, pasti ada kelebihan sebagai penyeimbang. Dan aku telah memahami itu semua. Berapa lama fisik bisa bertahan? Tapi kemurahan hati dan kebaikan akan bertahan selama dunia ini masih berputar... :D
Sooo yang dulu dan sekarang memganggap aku tidak cantik, eat your heart out!!! Cantik tidak penting buatku. Yang penting itu hati yang selalu ingin berbuat baik dan menyenangkan orang orang yang kita sayangi... :) 
Dan terutama, buat orang yang selalu di hati, yang selalu menyayangiku dan menerima aku apa adany. I Love You... Always *kisskiss*