Sabtu, 30 Agustus 2014

Istana Pasir



Siang itu aku membelah jalanan kota yang lengang. Aku bersyukur keputusanku untuk menyepi di kota kecil ini sangat tepat. Aku tak perlu stress bermacet – macet di jalan. Semua yang kubutuhkan mudah ku jangkau. Suara ponselku berdering, memaksaku menepi. Belum sempat ku ucapkan salam terdengar suara terisak – isak dari seberang.
“ Ranti...?” Tanyaku heran. Tak biasanya dia menelponku di jam – jam seperti ini.
“ Ta, bisa ketempatku sekarang? Aku butuh teman bicara...”
“ ya... “ jawabku singkat, seraya menutup telpon dan tancap gas ke rumah Ranti.
Wanita muda itu duduk di hadapanku, dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Aku hanya mampu menatapnya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menanti isaknya mereda.
“ Mas Haris ... pergi dari rumah, Ta...” lirih Ranti
“ Kami bertengkar, dan dia pergi, setelah sebelumnya dia melakukan ini...”
Aku menatap lebam di wajah Ranti, dan tanda biru di lengan atas Ranti. Aku hanya mampu menarik napas panjang.
“ Ini bukan kali pertama Ta, sudah yang kesekian kalinya, dulu aku selalu memaafkannya. Setiap kali dia melakukan kekerasan padaku, dia akan memohon ma’af, dan berjanji tak akan terulang lagi. Dia bilang dia khilaf. Dan aku selalu memaafkannya Ta, Tapi tidak kali ini. Sudah cukup Ta, dia menyiksa aku di depan anak – anak kami. “
“ Keluargamu tahu tentang hal ini Ran?” Ranti menggeleng
“ Aku selalu menutup rapat masalah Rumah Tanggaku, dari keluarga besar, Ta. Mereka semua tahunya aku bahagia, kehidupanku baik – baik saja “
Ya, aku maklum. Aku sendiri tak percaya dengan apa yang dialami, Ranti. Suaminya punya jabatan lumayan di tempatnya bekerja. Kehidupannya bisa dikategorikan berlebih. Dengan dua anak yang tengah lucu – lucunya. Dari luar mereka kelihatan seperti keluarga yang sangat harmonis. Siapa sangka kalau di dalamnya bergejolak. Aku salut dengan Ranti, dia tak pernah menunjukkan sikap tertekan atau tak bahagia. Dia selalu terlihat ceria. Dan begitu memperhatikan dua putra kembarnya. Dia juga seorang istri yang bisa ku kategorikan solehah. Ranti adalah teman sekolahku kala masih SMA. Kami bukanlah teman baik, Aku mengenalnya hanya sebatas teman satu kelas saat kami masih sama – sama kelas 1 SMA. Setelah lulus SMA aku memutuskan meneruskan pendidikan ku di Bandung. Dan hijrah ke kota kecil ini. Pertemuanku dengan Ranti tak sengaja. Saat aku tengah  mengikuti seminar di Jakarta, Di sanalah aku bertemu Ranti. Aku hampir tak mengenalinya dalam balutan busana Jilbab Syar’i. Dia tampak sangat anggun dan keibuan. Kami terlibat reuni kecil. Dari sanalah aku tahu, kalau selepas SMA Ranti sempat bekerja pada salah satu Bank Swasta terbesar di Jakarta, hingga akhirnya dia menikah dengan petinggi Bank di tempatnya bekerja. Dan memutuskan untuk focus mengurus rumah tangganya setelah menikah. Kehadirannya di seminar itu, tak lain karena mendampingi suaminya dalam acara tersebut. Dan sejak saat itulah kami mulai dekat.
  Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini, Ran?”
“ Aku akan mulai kembali bekerja Ta, Aku ingin bisa hidup mandiri, demi anak – anak aku”
“ Tidak kah sebaiknya kalian bicarakan baik – baik masalah ini, Ran?”
“ Dia tidak pernah bisa diajak bicara baik – baik Ta. Yang ada dia emosi, kesalahan kecil pun bisa jadi besar. Setiap kali dia marah, dia selalu memukul, dan itu dilakukan di depan anak-anak, Ta. Aku ga mau dampak psikologis ke mereka nanti”
Aku memejamkan mata, terbayang peristiwa yang selalu ku alami saat kecil. Ibuku selalu melampiaskan kemarahannya padaku. Ia selalu memukulku dengan benda apapun yg terdekat dari dia. Tak jarang, bibirku pecah, atau pahaku biru – biru akibat cubitan dan sabetan sapu atau kemoceng. Tak terhitung benturan dikepala, dan jenggutan kasarnya dirambutku. Aku bergidik. Dalam keadaan emosi saja seorang wanita seperti ibuku, bisa sangat menakutkan, apalagi seorang pria yang melampiaskan kemarahannya pada sosok mungil Ranti.
“ Sejak kapan dia seperti ini Ran, Apa sejak kalian menikah dia berbuat kasar padamu?”
“ Dulu dia pernah melakukan kekerasan padaku, tapi semakin menjadi – jadi kasarnya, setelah aku berhenti kerja. Dan akhir – akhir ini, dia makin emosional Ta. Apapun yang kulakukan selalu salah di matanya.”
“Aku tak perduli lagi, sekarang dia ada di mana, Ta. Bagus lah dia pergi, jadi  aku tak perlu jadi samsak hidupnya dia Ta.” Ranti kembali tersedu. Aku mencoba menenangkannya dengan memeluk Ranti erat. Mencoba memberi kekuatan padanya.
“ Kamu yang sabar yah. Harus kuat, Demi anak – anak kamu...” kucoba menghibur Ranti, dan kulihat senyum yang dipaksakan disudut bibirnya. Aku tahu, Ranti lebih paham apa itu sabar dan harus bagaimana. Buktinya dia bertahan selama 7 tahun perkawinannya yang penuh gejolak. Jika aku jadi Ranti, entah apa yang bisa kulakukan.
Tiba – tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk,
“ Sayang, kamu dimana? Aku ingin ketemu kamu”
Aku menatap layar ponselku, hingga suara Ranti mengejutkanku
“ Pekerjaanmu ya Ta?”
Aku mengangguk kikuk. “ Ya..” Jawabku singkat.
“ Pergilah, aku tak apa-apa, terima kasih sudah jauh – jauh datang. Ma’af merepotkanmu”
“ Kalau ada apa – apa, jangan sungkan tuk menelpon ku, ya Ran...”
Ranti mengangguk dan tersenyum. Dia mengantarku hingga ke mobilku
“ Salam buat Radith ya... Dia beruntung punya istri seperti kamu, Lenata. Cantik, Pintar, Baik hati...”
“ Tidak sombong, dan rajin menabung” Potongku cepat membuat Ranti tergelak.
“ Aku tidak kuatir lagi, kalo sudah mendengar kamu tertawa seperti itu Ran...”
Ranti tersenyum. Aku memandangnya dari kaca spionku, berharap semua akan baik – baik saja.
*************************************************************************
Seminggu kemudian Ranti menelponku, dia katakan bahwa semua baik – baik saja. Suaminya telah kembali ke rumah dan meminta ma’af. Dan dia mema’afkan suaminya demi anak – anaknya. Karena suaminya berjanji, bahwa itu kali terakhir dia mengasari Ranti.
Aku tak bisa berkata lebih, selain mengucapkan selamat, dan yah... yang tahu dan merasakan hanya Ranti. Walau buatku Kekerasan dalam Rumah Tangga sangat – sangat disesali. Mungkin jika aku berada dalam posisi Ranti aku akan berbuat hal yang sama. Entahlah...
Sebuah SMS masuk ke ponselku dari nomer tak di kenal.
“ Sayang,,, seminggu ini, aku keluar kota. Aku ingin memperbaiki semuanya. Jika aku sempat, aku sebisa mungkin akan contact kamu, kamu ga perlu kuatir, semua baik – baik saja. Apapun yang terjadi, aku ga akan meninggalkan kamu, tapi ku mohon pengertian dari kamu ya sayang... love you cinta –  Haris “
Aku menarik nafas, dan segera menghapus pesan itu. Ya... semua akan baik – baik saja, semoga....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar