Siang itu aku membelah jalanan
kota yang lengang. Aku bersyukur keputusanku untuk menyepi di kota kecil ini
sangat tepat. Aku tak perlu stress bermacet – macet di jalan. Semua yang
kubutuhkan mudah ku jangkau. Suara ponselku berdering, memaksaku menepi. Belum
sempat ku ucapkan salam terdengar suara terisak – isak dari seberang.
“ Ranti...?” Tanyaku heran. Tak
biasanya dia menelponku di jam – jam seperti ini.
“ Ta, bisa ketempatku sekarang?
Aku butuh teman bicara...”
“ ya... “ jawabku singkat, seraya
menutup telpon dan tancap gas ke rumah Ranti.
Wanita muda itu duduk di
hadapanku, dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Aku hanya mampu
menatapnya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menanti isaknya mereda.
“ Kami bertengkar, dan dia pergi,
setelah sebelumnya dia melakukan ini...”
Aku menatap lebam di wajah Ranti,
dan tanda biru di lengan atas Ranti. Aku hanya mampu menarik napas panjang.
“ Ini bukan kali pertama Ta,
sudah yang kesekian kalinya, dulu aku selalu memaafkannya. Setiap kali dia
melakukan kekerasan padaku, dia akan memohon ma’af, dan berjanji tak akan
terulang lagi. Dia bilang dia khilaf. Dan aku selalu memaafkannya Ta, Tapi
tidak kali ini. Sudah cukup Ta, dia menyiksa aku di depan anak – anak kami. “
“ Keluargamu tahu tentang hal ini
Ran?” Ranti menggeleng
“ Aku selalu menutup rapat
masalah Rumah Tanggaku, dari keluarga besar, Ta. Mereka semua tahunya aku
bahagia, kehidupanku baik – baik saja “
Ya, aku maklum. Aku sendiri tak
percaya dengan apa yang dialami, Ranti. Suaminya punya jabatan lumayan di
tempatnya bekerja. Kehidupannya bisa dikategorikan berlebih. Dengan dua anak
yang tengah lucu – lucunya. Dari luar mereka kelihatan seperti keluarga yang
sangat harmonis. Siapa sangka kalau di dalamnya bergejolak. Aku salut dengan
Ranti, dia tak pernah menunjukkan sikap tertekan atau tak bahagia. Dia selalu
terlihat ceria. Dan begitu memperhatikan dua putra kembarnya. Dia juga seorang
istri yang bisa ku kategorikan solehah. Ranti adalah teman sekolahku kala masih
SMA. Kami bukanlah teman baik, Aku mengenalnya hanya sebatas teman satu kelas
saat kami masih sama – sama kelas 1 SMA. Setelah lulus SMA aku memutuskan
meneruskan pendidikan ku di Bandung. Dan hijrah ke kota kecil ini. Pertemuanku
dengan Ranti tak sengaja. Saat aku tengah
mengikuti seminar di Jakarta, Di sanalah aku bertemu Ranti. Aku hampir
tak mengenalinya dalam balutan busana Jilbab Syar’i. Dia tampak sangat anggun
dan keibuan. Kami terlibat reuni kecil. Dari sanalah aku tahu, kalau selepas
SMA Ranti sempat bekerja pada salah satu Bank Swasta terbesar di Jakarta,
hingga akhirnya dia menikah dengan petinggi Bank di tempatnya bekerja. Dan
memutuskan untuk focus mengurus rumah tangganya setelah menikah. Kehadirannya
di seminar itu, tak lain karena mendampingi suaminya dalam acara tersebut. Dan
sejak saat itulah kami mulai dekat.
“
Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini, Ran?”
“ Aku akan mulai kembali bekerja
Ta, Aku ingin bisa hidup mandiri, demi anak – anak aku”
“ Tidak kah sebaiknya kalian
bicarakan baik – baik masalah ini, Ran?”
“ Dia tidak pernah bisa diajak
bicara baik – baik Ta. Yang ada dia emosi, kesalahan kecil pun bisa jadi besar.
Setiap kali dia marah, dia selalu memukul, dan itu dilakukan di depan
anak-anak, Ta. Aku ga mau dampak psikologis ke mereka nanti”
Aku memejamkan mata, terbayang
peristiwa yang selalu ku alami saat kecil. Ibuku selalu melampiaskan
kemarahannya padaku. Ia selalu memukulku dengan benda apapun yg terdekat dari
dia. Tak jarang, bibirku pecah, atau pahaku biru – biru akibat cubitan dan
sabetan sapu atau kemoceng. Tak terhitung benturan dikepala, dan jenggutan
kasarnya dirambutku. Aku bergidik. Dalam keadaan emosi saja seorang wanita
seperti ibuku, bisa sangat menakutkan, apalagi seorang pria yang melampiaskan
kemarahannya pada sosok mungil Ranti.
“ Sejak kapan dia seperti ini
Ran, Apa sejak kalian menikah dia berbuat kasar padamu?”
“ Dulu dia pernah melakukan
kekerasan padaku, tapi semakin menjadi – jadi kasarnya, setelah aku berhenti
kerja. Dan akhir – akhir ini, dia makin emosional Ta. Apapun yang kulakukan
selalu salah di matanya.”
“Aku tak perduli lagi, sekarang
dia ada di mana, Ta. Bagus lah dia pergi, jadi
aku tak perlu jadi samsak hidupnya dia Ta.” Ranti kembali tersedu. Aku
mencoba menenangkannya dengan memeluk Ranti erat. Mencoba memberi kekuatan
padanya.
“ Kamu yang sabar yah. Harus
kuat, Demi anak – anak kamu...” kucoba menghibur Ranti, dan kulihat senyum yang
dipaksakan disudut bibirnya. Aku tahu, Ranti lebih paham apa itu sabar dan
harus bagaimana. Buktinya dia bertahan selama 7 tahun perkawinannya yang penuh
gejolak. Jika aku jadi Ranti, entah apa yang bisa kulakukan.
Tiba – tiba ponselku berbunyi.
Sebuah pesan masuk,
“ Sayang, kamu dimana? Aku ingin
ketemu kamu”
Aku menatap layar ponselku,
hingga suara Ranti mengejutkanku
“ Pekerjaanmu ya Ta?”
Aku mengangguk kikuk. “ Ya..”
Jawabku singkat.
“ Pergilah, aku tak apa-apa,
terima kasih sudah jauh – jauh datang. Ma’af merepotkanmu”
“ Kalau ada apa – apa, jangan sungkan
tuk menelpon ku, ya Ran...”
Ranti mengangguk dan tersenyum.
Dia mengantarku hingga ke mobilku
“ Salam buat Radith ya... Dia
beruntung punya istri seperti kamu, Lenata. Cantik, Pintar, Baik hati...”
“ Tidak sombong, dan rajin
menabung” Potongku cepat membuat Ranti tergelak.
“ Aku tidak kuatir lagi, kalo
sudah mendengar kamu tertawa seperti itu Ran...”
Ranti tersenyum. Aku memandangnya
dari kaca spionku, berharap semua akan baik – baik saja.
*************************************************************************
Seminggu kemudian Ranti
menelponku, dia katakan bahwa semua baik – baik saja. Suaminya telah kembali ke
rumah dan meminta ma’af. Dan dia mema’afkan suaminya demi anak – anaknya.
Karena suaminya berjanji, bahwa itu kali terakhir dia mengasari Ranti.
Aku tak bisa berkata lebih,
selain mengucapkan selamat, dan yah... yang tahu dan merasakan hanya Ranti.
Walau buatku Kekerasan dalam Rumah Tangga sangat – sangat disesali. Mungkin
jika aku berada dalam posisi Ranti aku akan berbuat hal yang sama. Entahlah...
Sebuah SMS masuk ke ponselku dari
nomer tak di kenal.
“ Sayang,,, seminggu ini, aku
keluar kota. Aku ingin memperbaiki semuanya. Jika aku sempat, aku sebisa
mungkin akan contact kamu, kamu ga perlu kuatir, semua baik – baik saja. Apapun
yang terjadi, aku ga akan meninggalkan kamu, tapi ku mohon pengertian dari kamu
ya sayang... love you cinta – Haris “
Aku menarik nafas, dan segera
menghapus pesan itu. Ya... semua akan baik – baik saja, semoga....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar