Papa... adalah seorang lelaki, yang tidak pernah mengungkapkan perasaannya terhadap anak - anaknya. Ketika marah dan sedih, ia akan terdiam. Diam tanpa kata. Aku masih bersyukur jika papa masih ngomel dan membentak, tapi aku akan salah tingkah jika papa mendiamkanku.
Papa... adalah seorang laki - laki, yang akan diam seribu bahasa, jika ada yang berkata buruk tentang dirinya. Tapi papa akan berada di garis terdepan, saat anaknya disakiti dan saat anaknya diberitakan tidak benar.
Papa... tidak pernah mengeluh akan kerasnya hidup, akan lelahnya fisik dalam mencari nafkah.
Papa... tidak pernah berkata tidak, tapi saatnya tiba, apa yang kita pinta akan dia berikan.
Papa... tidak pernah meminta pamrih atas jerih payahnya, cukup melihat buah hatinya rukun dan menyayanginya, itu sudah lebih dari cukup.
Papa... jarang memelukku saat kecil, tapi dia akan sangat khawatir jika ada yang berusaha menyakitiku
Papa... jarang bercanda denganku, tapi aku tau, dia diam - diam memperhatikan tingkah lakuku
Papa... tak pernah berkata dia menyayangiku, tapi aku tau, dia selalu menjagaku.
Papa... tak pernah menunjukkan rasa cintanya, tapi dia memberi kriteria akan pria yang tulus mencintaiku
Saat papa menangis sedih... itulah saat hari dimana aku meminta restunya, untuk menikahi pria pilihanku.
Papa menangis, karena papa bahagia, beban di pundaknya sedikit berkurang, karena telah ada yang menjagaku, memastikan aku baik - baik saja, memastikan dia bisa membimbingku.
Papa menangis, karena papa sedih, sedih karena merasa tidak cukup banyak waktu yang telah dia berikan untuk menyayangi putri satu - satunya. Betapa papa sedih, karena aku tak bisa lagi bermanja dengannya, tak lagi meminta izinnya, tak lagi menceritakan keluh kesahku padanya. Tak lagi bisa melarangku pergi.
Papa terdiam dan termangu, marahnya siratkan rasa khawatir yang begitu dalam, saat aku berjuang menjadi seorang ibu. Tak banyak berkata, tapi dari raut dan bahasa tubuhnya, papa sangat takut kehilanganku. Dan senyumnya kembali mengembang, saat dia mendengar tangisan cucu laki - lakinya tuk pertama kali.
Papa terdiam dan kaku, saat vonis kista bersemayam di tubuhku.
Papa tertunduk dan memalingkan wajah, tak mau melihat aku berjalan menuju ruang operasi
lagi - lagi expresi lega tersirat dari wajahnya, saat dokter nyatakan aku pulih.
Dan kali ini, papa memangis dihadapanku, menceritakan betapa beratnya hidup yang harus dijalani di sisa usianya. Ahh... satu bulir air mata papa saja, sudah menghujam jantungku ratusan kali, membunuhku ribuan kali. Aku bagai tersambar petir, inikah papaku? Pria yang selalu tersenyum, yang selalu berkata semua baik - baik saja, ternyata menyimpan begitu banyak beban di hatinya dan sekarang tak sanggup lagi di pendam sendiri. Hatiku hancur, remuk redam, tubuhku serasa tak bertulang...
Aaaahh... papa... papa ku sayang, maaf kan anakmu, yang tak pernah menyangka beban yang kau pikul begitu berat. Maafkan anakmu yang telah lalai memperhatikanmu, maafkan aku yang begitu egois hanya memikirkan kesenanganku. maafkan aku papa... maafkan aku yang tidak bisa membuatmu bangga...
Jangan lagi menangis papaku... jangan biarkan anakmu ini mati karena penyesalan tiada tara karena telah membuatmu menangis. Maafkan aku... aku akan berusaha menjadi anak yang baik, anak yang bisa papa andalkan untuk sekedar menyandarkan tubuh papa yang penat.
Aku sayang papa, papalah satu - satunya pria di dunia, yang tak kan pernah menyakiti dan menghianati aku. Jangan menagis lagi papa, aku mohon... berikanlah senyummu, agar aku mampu menaklukan kerasnya hidup ini...
--Dear Daddy, i might have found my prince, but you will always be my King--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar