DI... malam ini, aku memikirkanmu. Sama seperti malam - malam yang lain. Tak pernah sedetikpun aku tak memikirkanmu. Entah sejak kapan wajahnya menjelma menjadi wajahmu. Senyumnya mengingatkanku padamu. Kamu selalu hadir disetiap hembusan nafasku, DI...
Setiap kali aku menyiapkan segala keperluannya, aku membayangkan tengah mempersiapkan segala keperluan kamu. Setiap kali aku mengantarnya kepergiannya, aku membayangkan tengah mengantarmu dan mencium tanganmu DI, Aku menatap punggungnya yang menghilang ditikungan, seolah aku menatap punggungmu.
Setiap sentuhan yang kurasa, aku berharap itu kamu. Malam - malam yang ku habiskan terasa sangat panjang. Aku berharap segera pagi, agar aku bisa mendengar suaramu. Pun aku tidak bisa mendengar suaramu, aku berharap mendengar dering indah dari ponselku. Aku selalu menantikan pesan darimu. Hanya dengan bertukar pesan singkat denganmu, aku merasa dunia kita menyatu DI. Entah di alam mana, aku merasakan kita menyatu.
Kamu telah menjadi candu bagiku DI... Aku selalu merasa sesak jika aku mengingatmu. Aku selalu moody saat kamu belum memberi kabar. Kata - katamu selalu membuatku bersemangat.
Entahlah DI... Kamu telah menarikku jauh ke dalam duniamu. Dan entah sampai kapan, aku di dalamnya. Mungkinkah aku tinggal, atau aku harus pergi? Untuk saat ini, biarkan aku seperti ini DI. Biarkan aku merasakan curahan perhatian dari kamu, walau aku tak tahu, berhak kah aku atas semua ini? Aku tahu aku telah keliru. Tidak seharusnya aku masuk, saat kamu membukakan pintu menuju hatimu. Karena aku tahu, telah ada yang mengisinya. Tapi aku tetap berharap, kamu masih menyisakan satu ruang kosong untukku. Ruang yang tak pernah kumasuki, walau telah kamu siapkan 21 tahun yang lalu. Aku terlalu takut mengetuk pintunya, dan kamu terlalu ragu tuk membukanya. Dan kini, saat ruang itu penuh sesak, aku memaksakan diriku untuk masuk. Tak mengapa DI, kau tempatkan aku disalah satu sudut dihatimu, aku cukup bersyukur, kamu masih menyisakan ruang untukku.
DI... ini bukanlah suatu kesalahan. Hanya satu episode dalam hidup yang harus kita jalani. Jika kamu adalah kesalahan, kamu kesalahan terindah dalam hidupku. dan jika kamu adalah godaan, kamulah godaan terdahsyat.
Sampai saatnya tiba, biarkan aku menatap binar indah di matamu...