Kamis, 26 Juni 2014

My Favorite Mistake

DI... malam ini, aku memikirkanmu. Sama seperti malam - malam yang lain. Tak pernah sedetikpun aku tak memikirkanmu. Entah sejak kapan wajahnya menjelma menjadi wajahmu. Senyumnya mengingatkanku padamu. Kamu selalu hadir disetiap hembusan nafasku, DI... 
Setiap kali aku menyiapkan segala keperluannya, aku membayangkan tengah mempersiapkan segala keperluan kamu. Setiap kali aku mengantarnya kepergiannya, aku membayangkan tengah mengantarmu dan mencium tanganmu DI, Aku menatap punggungnya yang menghilang ditikungan, seolah aku menatap punggungmu. 
Setiap sentuhan yang kurasa, aku berharap itu kamu. Malam - malam yang ku habiskan terasa sangat panjang. Aku berharap segera pagi, agar aku bisa mendengar suaramu. Pun aku tidak bisa mendengar suaramu, aku berharap mendengar dering indah dari ponselku. Aku selalu menantikan pesan darimu. Hanya dengan bertukar pesan singkat denganmu, aku merasa dunia kita menyatu DI. Entah di alam mana, aku merasakan kita menyatu. 
Kamu telah menjadi candu bagiku DI... Aku selalu merasa sesak jika aku mengingatmu. Aku selalu moody saat kamu belum memberi kabar. Kata - katamu selalu membuatku bersemangat. 
Entahlah DI... Kamu telah menarikku jauh ke dalam duniamu. Dan entah sampai kapan, aku di dalamnya. Mungkinkah aku tinggal, atau aku harus pergi? Untuk saat ini, biarkan aku seperti ini DI. Biarkan aku merasakan curahan perhatian dari kamu, walau aku tak tahu, berhak kah aku atas semua ini? Aku tahu aku telah keliru. Tidak seharusnya aku masuk, saat kamu membukakan pintu menuju hatimu. Karena aku tahu, telah ada yang mengisinya. Tapi aku tetap berharap, kamu masih menyisakan satu ruang kosong untukku. Ruang yang tak pernah kumasuki, walau telah kamu siapkan 21 tahun yang lalu. Aku terlalu takut mengetuk pintunya, dan kamu terlalu ragu tuk membukanya. Dan kini, saat ruang itu penuh sesak, aku memaksakan diriku untuk masuk. Tak mengapa DI, kau tempatkan aku disalah satu sudut dihatimu, aku cukup bersyukur, kamu masih menyisakan ruang untukku. 

DI... ini bukanlah suatu kesalahan. Hanya satu episode dalam hidup yang harus kita jalani. Jika kamu adalah kesalahan, kamu kesalahan terindah dalam hidupku. dan jika kamu adalah godaan, kamulah godaan terdahsyat.
Sampai saatnya tiba, biarkan aku menatap binar indah di matamu...

Rabu, 25 Juni 2014

Senyum

Aku menatap cermin lalu tersenyum,
Aku menyentuh kedua pipiku lalu tersenyum,
Aku menyentuh kedua bibirku lalu tersenyum,
Aku menyentuh gaunku dan kembali tersenyum…

Terasa ada yang janggal, setiap kali aku …
Mengingat tatapanmu,
Mengingat sentuhanmu,
Mengingat kecupanmu,
mengingat rengkuhanmu,
Aku selalu tersenyum…

Dan aku selalu ingin tersenyum,
Setiap kali mengingat bisikanmu,
Aku sayang kamu…

Aku menatap lekat kedalam cermin,

Aku melihatmu, tersenyum…

Selasa, 10 Juni 2014

I Wanna Be With You ( Mandy Moore )

I try but I can’t seem to get myself
To think of anything, but you
Your breath on my face
Your warm gentle kiss I taste the truth, I taste the truth

We know what I came here for
So I won`t ask for more

I wanna be with you
If only for a night
To be the one who’s in your arms who holds you tight
I wanna be with you
There`s nothing more to say
There`s nothing else I want more than to feel this way
I wanna be with you

So I`ll hold you tonight like I would if you were mine
to hold forever more
And I`ll savor each touch that I wanted
So much to feel before (to feel before)
How beautiful it is
 Just to be like this

I wanna be with you,
If only for a night
To be the one who’s in your arms who holds you tight
I wanna be with you
There`s nothing more to say
There`s nothing else I want more than to feel this way
I wanna be with you

Oh... baby I can`t fight this feeling anymore
It drives me crazy when I try to
So call my name, take my hand
And make my wish Baby, your command.

I wanna be with you
There`s nothing more to say

There`s nothing else I want more than to feel this way

Twenty one ep. 2

" Aku mencarimu ke mana - mana, Eva..." ujar Devan lirih. menatap lekat - lekat gadis pujaannya yang sekarang telah berubah menjadi sosok wanita dewasa yang anggun. Sosok yang begitu dirinduinya selama 21 tahun. Sosok yang membuatnya gelisah dan putus asa. 
"Kamu makin cantik, " tambahnya getir. 
"Untuk apa kamu mencari aku Van? ga usah ngegombal. udah ga mempan buat aku..." Eva tersenyum
"Kamu masih marah ya?"
" Marah? untuk apa? pada siapa?" 
" Sama aku... sama Aline..."
" Ga usah sebut nama itu lagi!" potong Eva "Ga ada bedanya, nama itu telah menghilang bersama masa - masa kecil kita" 
" Tapi kamu tetap Eva yang sama buat aku. Please dengerin aku dulu, walau kini ga ada bedanya, setidaknya ijinkan aku jujur ke kamu, kali ini aja..."
Eva terdiam
" Dengerin aku dulu ya... setelah ini, kamu mau marah, kamu mau benci aku, terserah. tapi ... please, biar aku jelaskan. walau terlambat, tapi aku ingin kamu tau... ini penting buat aku..."
Dewan menarik nafas berat. Seolah ingin melepaskan sebuah beban berat dari hatinya.

Rabu, 04 Juni 2014

21 ep. 1

Aku menyukainya, sejak dulu, sejak kami sekelas di kelas 3 SMP. Ia bukan termasuk siswa populer, tapi termasuk siswa yang pandai. Dia bukan juga termasuk siswa yang selalu bergerombol membuat onar. Tapi yang membuatnya spesial , ia seorang siswa yang manis di mataku. Aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Mencuri-curi pandang padanya. Dan merasa bahagia saat ia meminjam pensil, atau pengraut. Aku selalu berusaha mencari kesempatan utuk bisa sekedar mencari bahan pembicaraan dengannya. Setahun berlalu begitu cepat. Aku merasa kesempatan terakhirku untuk bisa dekat dengannya saat perpisahan sekolah ke pantai salira. Namun usahaku sia - sia. dia tak pernah menyambut perasaanku. Aku hanya cukup merasa senang saat aku bisa mengambil fotonya dengan kameraku. Setelah lulus dari SMP, aku benar - benar kehilangan kontaknya.

Minggu, 01 Juni 2014

PONSEL

Dan aku... masih terdiam disini. menatap layar ponselku tak berkedip. Berharap lampu led berwarna merah itu berkedip, berharap ponselku bergetar diiringi bunyi yang ku kenal. Dan aku akan bersegera memencet keypad untuk melihat apakah ada pesan untukku, lalu aku akan tersenyum, dan jari - jariku menari di atas keypad. Merangkai kata demi kata, tentang curahan hatiku. Tentang perasaan terpendamku, tentang anganku akan dirimu. Aku akan terbuai, melayang... anganku melanglang buana ke masa lalu. Ke masa di mana, kamulah mahluk terindah yang Tuhan ciptakan untukku. 

Dan aku... masih menatap layar ponselku tanpa berkedip. Lampu led berwarna merah itu tak pernah menyala, ponselku tak pernah bergetar, pun bunyi yang ku kenal tak pernah terdengar. Semua itu, hanyalah mimpi di siang bolong, saat aku tak sengaja tertidur diatas meja kerjaku, akibat kantuk yang tak tertahankan.     Rasa lelah telah menyemangatiku dengan menghadirkanmu dalam mimpiku... 

Dan aku... masih menatap layar ponselku tanpa berkedip, berharap itu bukanlah mimpi....



WAKE UP, DREAMER!!!!

Semoga Kau Tahu

Ada kata tak terungkap diantara kita....
Berlalu dalam sepi...
Mencari dalam senyap...

Merindumu kala sendiri,
Berharap mimpi menyapa...

Kau kata yang tak terucap,
Kau rasa yang tak sampai,
Kau rindu yang tak bertepi....

Bersua denganmu, kala tak lagi sendiri...
Menatap dengan nanar...
Selaksa wajah kembali terpancar...

Kau masih rindu yang tak berujung...
Mengigatmu...
Melihatmu dalam diam...
Adalah bahagia yang tak terperi...
Berharap angin bantu bisikan...
Kau masih cinta yang bersinar...


Cibinong, April 2014