Selasa, 29 Desember 2015

Putri Salju

Putri Salju atau dikenal dengan Snow White. Sebenaranya agak janggal juga kalau Snow Shite diterjemahkan menjadi Putri Salju. Karena dalam Bahasa Aslinya, putri salju itu Princess Snow White, seharusnya dalam Bahasa Indonesia Snow White artinya Putih Salju, dan seharusnya pula menjadi Puteri Putih Salju. Entah mungkin karena orang Indonesia ga suka ribet kali ya... 
Kali ini aku ingin membahas cerita Putri Salju, yang diadaptasi dari Snow White versi Disney. Cerita ini yang menemani masa kecil ku sekitar tahun 1986-an. ketika aku masih kelas 2 atau 3 SD. Mamaku seorang ibu yang bekerja, Dia memahami keterbatasan waktunya dalam menemani kami dan membacakan dongeng buat kami, Saat itu buku cerita adalah suatu hal yang sangat langka dan mewah. Begitu juga dengan televisi. acara - acara buat anak - anak sangat jarang ada. Jaman itu kaset merupakan barang yang sangat umum. Mamaku membelikan kami sebuah kaset yang bercerita tentang Putri Salju versi Indonesia. Dengan judul yang sama PUTRI SALJU dari sanggar PUSPITA. *)sayang sekali, kasetnya entah ada di mana sekarang ini(*

KEPO

Hari ini perasaanku, entah kenapa kacau balau. Antara ingin menangis dan rasa sesak di dada yang aku sendiri bingung apa sebabnya. Ingin sekali teriak sekencang - kencangnya. Mungkin efek PMS menjadi pemicunya. Entahlah... yang jelas perasaanku bisa dibilang berantakan. Yaa.. semua berawal dari sifat kepo ku yang sangat parah. selalu ingin tahu segala hal yang sebenarnya ingin aku lupakan. Tapi tetap rasa kepo ku terlalu tinggi, bahkan terkadang rasa kepo ini yang berkali - kali membuatku terluka. Dan bodohnya berulang - ulang aku lakukan. Mungkin meminjam istilah anak sekarang, aku termasuk orang yang Gagal Move On kali ya.... Iya kah?
Anyway... apapun yang aku lakukan, tidak seharusnya menjadi penghambat laju langkahku. Hey... nobody is perfect, I am only human and made mistakes sometimes. Tapi terkadang itu membuatku merutuki diri sendiri, aku sangat sulit memaafkan, bahkan pada diriku sendiri. Mungkin aku maafkan tapi tidak mudah aku lupakan, pendendam ga sih??
Selama aku belum bisa memaafkan diriku sendiri, mungkin aku akan didera perasaan ini. So the point is, aku harus memaafkan diri sendiri, dan berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama. Jatuh... bangkit lagi, Jatuh... bangkit lagi. Mungkin itu yang harus aku tekankan pada diriku sendiri. Kesalahan tidak mutlak pada diriku, adalah kelemahanku sebagai manusia yang membuatku melakukan kesalahan, itu berarti aku masih manusia. Dan dari kesalahan itulah seharusnya aku belajar untuk tahu mana yang salah dan mana yang benar. Tuhan saja pemaaf, mengapa aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri? Sebelum aku bisa memaafkan orang lain, aku harusnya memaafkan diriku sendiri. So Lenata... forgive your self ok? Deal with it. It is the life you must live with, learn form it, though bad thing happens sometimes, but that is the life. Just Move on, take a step forward, it is time to leave the shell, go for it, smile and face the world the way you used to see life, be kind to others and your love one, you GO GIRL!!!!
Hasil gambar untuk kartun islami

Jumat, 18 Desember 2015

Belum ada judul

Ada hal yang menggelitik aku buat menulis kisah ini. Walau sebenarnya agak kurang etis aku tuliskan, karena pada dasarnya ini adalah, opini pribadi aku sendiri, yang mungkin saat menyikapi permasalahan ini kepalaku sedang tidak dalam kondisi dingin. Tapi aku rasa tidak ada salahnya aku menuliskan ini, toh hal seperti ini sudah jamak terjadi di masyakarat. dan aku hanya sekedar menuliskan sekelumit kisah yang terjadi di sekitar aku.
Semua berawal dari polemik working mom dan stay home mom. Ada pria yang begitu ngotot bahwa wanita lebih baik di rumah dan tidak bekerja, wanita kodratnya adalah melayani suami dan mengurus anak - anak dengan balasan surga. Dan lebih penting lagi, SK nya langsung dengan Sang Khalik. Siapa yang tidak tersudutkan dengan kata - kata semacam itu. terus terang saja, aku sempat terganggu dengan hal itu. Buat aku pribadi, aku bekerja memang atas kemauanku sendiri dan atas seizin suami, bukannya aku kufur nikmat atau apalah bahasanya orang yang ilmu agamanya telah mumpuni, tapi aku bekerja semata - mata demi membantu suamiku. Ditambah lagi dengan berbagai macam tuntutan hidup yang harus kami hadapi. Anak - anak semakin besar dan kebutuhan semakin bertambah. Aku juga ingin hidup layak seperti orang - orang yang bergaji besar, atau berkantong tebal. Bukan aku tidak mensyukuri apa yang didapat suamiku, tapi hallo... bukankah kalian yang seharusnya bersyukur? mendapatkan suami dengan sumber penghasilan besar, bisa leha - leha di rumah saja mengurus anak, tak perlu repot - repot dengan seabreg tugas rumah, karena suami kalian sanggup menggaji seorang asissten rumah tangga, yang sekarang ini gaji mereka saja, hampir separuh gaji aku sebulan. dan mungkin pendapatan aku dan suamiku sebulan, hanya sepersekian pendapatan suami kalian. Apa aku iri? TIDAK!!! aku tahu Tuhan telah mengatur rezeki manusia. Dan kita yang wajib menjemputnya.
Tapi bukan masalah itu yang ingin aku bahas.
Seorang kenalanku, seorang pria muda yang tengah menapaki tangga kesuksessan, dari potret kesehariannya, mereka merupakan keluarga yang harmonis, keluarga yang bahagia, dengan sepasang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan tengah lucu - lucunya. Kehidupan mereka bisa dikatergorikan keluarga muda yang suksess, suami bekerja dengan penghasilan yang fantatis karena sanggup mencari penghasilan tambahan yang dapat membeli apapun yang mereka inginkan. Hampir tiap akhir pekan mengunjungi tempat - tempat rekreasi dan menginap di hotel - hotel atau resort terkenal, makan di restoran mahal, berbelanja di mall - mall megah. Tak perlu khawatir dengan budget. Tinggal sodorkan kartu Debit dan semua beres. Istri tampak bahagia, karena bisa mengunggah kemanapun mereka pergi, dan membuat rekan sesama sosialitanya mendecak kagum dan iri. Tapi tahukah dibalik semua kemewahan dan kesenangan yang diperoleh sang istri, diam - diam suaminya punya WIL. Padahal dia terlihat sangat bahagia dan sangat mencintai istrinya dengan semua kesenangan yang selalu dia berikan. Dan bukan hanya sekali suaminya berbuat hal ini. Sudah beberapa wanita yang dia pacari selama kurun waktu pernikahan mereka. Tapi karena memang sang suami pandai bersandiwara, sang istri tidak pernah mengetahui sepak terjang suaminya di luaran. Sang istri amat sangat percaya bahwa suaminya adalah pria penyayang dan sangat mencintainya tak mungkin tega melakukan hal menyakitkan seperti itu. Dan jelas, suami tidak ingin istrinya bekerja di luar dengan alasan semua sudah tercukupi, yaa memang benar adanya demikian, tapi apa lantas melegalkan caranya memperlakukan istrinya seperti itu dibelakangnya? apa bukan karena dia khawatir, jika istri bekerja, maka segala topeng keburukan dia kan terkuak?
Entahlah... aku tak berhak berpikiran macam-macam.