Ada hal yang menggelitik aku buat menulis kisah ini. Walau sebenarnya agak kurang etis aku tuliskan, karena pada dasarnya ini adalah, opini pribadi aku sendiri, yang mungkin saat menyikapi permasalahan ini kepalaku sedang tidak dalam kondisi dingin. Tapi aku rasa tidak ada salahnya aku menuliskan ini, toh hal seperti ini sudah jamak terjadi di masyakarat. dan aku hanya sekedar menuliskan sekelumit kisah yang terjadi di sekitar aku.
Semua berawal dari polemik working mom dan stay home mom. Ada pria yang begitu ngotot bahwa wanita lebih baik di rumah dan tidak bekerja, wanita kodratnya adalah melayani suami dan mengurus anak - anak dengan balasan surga. Dan lebih penting lagi, SK nya langsung dengan Sang Khalik. Siapa yang tidak tersudutkan dengan kata - kata semacam itu. terus terang saja, aku sempat terganggu dengan hal itu. Buat aku pribadi, aku bekerja memang atas kemauanku sendiri dan atas seizin suami, bukannya aku kufur nikmat atau apalah bahasanya orang yang ilmu agamanya telah mumpuni, tapi aku bekerja semata - mata demi membantu suamiku. Ditambah lagi dengan berbagai macam tuntutan hidup yang harus kami hadapi. Anak - anak semakin besar dan kebutuhan semakin bertambah. Aku juga ingin hidup layak seperti orang - orang yang bergaji besar, atau berkantong tebal. Bukan aku tidak mensyukuri apa yang didapat suamiku, tapi hallo... bukankah kalian yang seharusnya bersyukur? mendapatkan suami dengan sumber penghasilan besar, bisa leha - leha di rumah saja mengurus anak, tak perlu repot - repot dengan seabreg tugas rumah, karena suami kalian sanggup menggaji seorang asissten rumah tangga, yang sekarang ini gaji mereka saja, hampir separuh gaji aku sebulan. dan mungkin pendapatan aku dan suamiku sebulan, hanya sepersekian pendapatan suami kalian. Apa aku iri? TIDAK!!! aku tahu Tuhan telah mengatur rezeki manusia. Dan kita yang wajib menjemputnya.
Tapi bukan masalah itu yang ingin aku bahas.
Seorang kenalanku, seorang pria muda yang tengah menapaki tangga kesuksessan, dari potret kesehariannya, mereka merupakan keluarga yang harmonis, keluarga yang bahagia, dengan sepasang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan tengah lucu - lucunya. Kehidupan mereka bisa dikatergorikan keluarga muda yang suksess, suami bekerja dengan penghasilan yang fantatis karena sanggup mencari penghasilan tambahan yang dapat membeli apapun yang mereka inginkan. Hampir tiap akhir pekan mengunjungi tempat - tempat rekreasi dan menginap di hotel - hotel atau resort terkenal, makan di restoran mahal, berbelanja di mall - mall megah. Tak perlu khawatir dengan budget. Tinggal sodorkan kartu Debit dan semua beres. Istri tampak bahagia, karena bisa mengunggah kemanapun mereka pergi, dan membuat rekan sesama sosialitanya mendecak kagum dan iri. Tapi tahukah dibalik semua kemewahan dan kesenangan yang diperoleh sang istri, diam - diam suaminya punya WIL. Padahal dia terlihat sangat bahagia dan sangat mencintai istrinya dengan semua kesenangan yang selalu dia berikan. Dan bukan hanya sekali suaminya berbuat hal ini. Sudah beberapa wanita yang dia pacari selama kurun waktu pernikahan mereka. Tapi karena memang sang suami pandai bersandiwara, sang istri tidak pernah mengetahui sepak terjang suaminya di luaran. Sang istri amat sangat percaya bahwa suaminya adalah pria penyayang dan sangat mencintainya tak mungkin tega melakukan hal menyakitkan seperti itu. Dan jelas, suami tidak ingin istrinya bekerja di luar dengan alasan semua sudah tercukupi, yaa memang benar adanya demikian, tapi apa lantas melegalkan caranya memperlakukan istrinya seperti itu dibelakangnya? apa bukan karena dia khawatir, jika istri bekerja, maka segala topeng keburukan dia kan terkuak?
Entahlah... aku tak berhak berpikiran macam-macam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar