Di luar gelap
sekali, gelap pekat. Hingga aku tak dapat melihat sekelebat cahaya pun. Hanya
terdengar bunyi roda KRL yang bergesekan dengan batalan rel. Kereta melaju
sangat cepat, di dalam gerbong tak ada penumpang lain, hanya aku berdua dengan
Irul. Tiba – tiba dia menggenggam tanganku, dan menyelipkan sebuah cincin di
jari manisku. Aku menatapnya terkejut. Dia hanya tersenyum, membuat wajahnya
yang bersih terlihat semakin bersinar.
“ Memangnya kak Irul mau kemana?
Kenapa kasih Lenata cincin ini?” tanyaku.
“Kak Irul mau jalan – jalan,
Lenata jangan nakal ya...” Bisiknya pelan, masih menatap wajahku dengan
pandangan matanya yang teduh.
Aku menundukkan wajahku
memperhatikan benda bulat berwarna putih yang melingkar di jari masihku. Suara
Sirene Kereta meraung memecah kesunyian.
Aku tersentak, mengerjap
ngerjapkan mataku dan melihat ke arah jam beker di atas meja. Jam 2.30 dini
hari. Aku menghela nafas, ternyata hanya mimpi. Bunga tidur. Aku mencoba
memejamkan mataku kembali, tapi hingga adzan subuh berkumandang, aku tak bisa
tidur lagi. Rasa kantukku entah terbang kemana.
Dan di sinilah aku, mengambil
tempat di sudut kelas, agar tak terlalu mencolok perhatian. Aku senang duduk
disudut, jadi aku terbebas dari teriakan – teriakan dan celoteh – celoteh yang
sangat memekakan telinga. Itu sangat mengganggu. Sebenarnya mereka anak – anak
baik sih, tapi mereka terlalu berisik. Dan aku tak suka. Aku kesini untuk
belajar, bukan sekedar menghabiskan waktu.
“Good afternoon, class...” Mr.
Ichsan mengawali kelas, sambil tersenyum, yang kata orang sih senyumnya manis,
tapi buatku lebih kepada menyeringai bagai srigala lapar. Aku menjawab salamnya
dengan malas.
“ owh... before we start, i would
like to introduce you to our new friends here. Ok ... you both... please
introduce your self to the class” aku mengikuti telunjuk Mr. Ichsan, oohh..
ternyata ada 2 murid baru dikelas. Mereka dua orang mahasiswa sebuah PTS
semester dua. Lumayan lah, ada orang yang berakal di kelas ini, dan yang
terpenting mereka manis – manis. Walau aku tak tahu apa korelasinya, aku malas
berfikir.
Namanya Birrul
Triyanto dan panggilannya Irul. Tinggi, kecil, hitam manis dan cenderung jutek.
Tak banyak bicara. Sekalinya bicara, membuatmu malas berbicara untuk kedua
kalinya dengan dia. Dan hari ini, aku satu kelompok diskusi dengan dia. Hey...
ternyata dia tidak seperti yang ku duga, dia smart dan baik. Banyak ide – ide yang
kurasa nyentrik. Hari ini pembahasan tentang “survive on an isolated island” Di
sana kita hanya diperbolehkan membawa barang – barang yang sekiranya kita
perlukan untuk bertahan di sebuah pulau terpencil. Disaat pemikiran kawan –
kawan yang lain, sibuk membawa berbagai mcam jenis tanaman yang akan di tanam
di pulau tersebut, dia berkata hanya akan membawa bensin, sebuah parang dan
sebuah motor penggerak. Semua terheran – heran dengan idenya itu tak terkecuali
aku dan MR. Ichsan.
“Why do you choose those kind of
things, why can’t you choose like anybody else? “
“ Well... sir, They’re planning
to stay and live on that isolated island, while i’m planning to escape from
that damn island, and look for a modern Island. I would build a boat, ride on
it, and bye... bye...”
Seketika kelas hening. Dan
tiba-tiba Mr. Ichsan bertepuk tangan keras sekali, membuat kami semua terkejut.
“What a brilliant, idea!!!”
gelaknya.
“ I been giving this disscussion
for my entire carrier here, and never had an answer like that. Good Job...” Mr.
Ichsan menepuk – nepuk pundaknya.
Dia tersenyum penuh kemenangan
dan mengerling ke arahku. Ia sempat mencibir dan mencemoohku, saat aku memilih
barang – barang seperti yang dipilih
oleh hampir seluruh teman sekelasku.
Sejak hari itu, aku selalu senang
jika satu kelompok dengannya. Bahkan tak jarang aku dengan sukarela menawarkan
diri untuk bergadung dengan kelompok diskusinya.
Aku
melirik arlojiku, hari ini aku datang terlalu awal. Kelas baru akan dimulai
setengah jam kemudian. Aku menghela nafas, kupandangi dengan bosan kolam lele
dumbo tempatku menunggu, Ikan lelenya besar – besar dan kumisnya panjang, aku
bergidik geli. Aku masih suka teheran – heran kenapa orang bisa dengan lahap
menyantap hewan menakutkan ini? Bagaimana tidak? Tubuhnya yang licin, berkumis
dan dengan mulut yang begitu lebar, buatku sangat menakutkan. Aku melemparkan
sepotong roti yang sejak tadi ku pegang. Dan dengan cepat habis disambar oleh
mereka, membuatku makin bergidik mual.
“Lenata...” Aku menoleh ke si
empunya suara, Dia disana setengah berlari menghampiriku. Dengan napasnya yang
terengah – engah dia mencoba berbicara. Aku menyodorkan botol air mineralku
padanya, yang dengan cepat disambar dan langsung tandas. Aku terbelalak, dia
tersenyum jahil.
“Nanti, aku belikan lagi...”
katanya seraya menyeka keringat di dahinya dengan tissu yang kusodorkan.
“ Belum lama nunggu kan?”
tanyanya setelah nafasnya teratur
Aku melirik arlojiku, “ sebentar,
baru 30 menit, belum 2 jam” Sahutku ketus. Dia tergelak.
“Sorry, tadi aku pulang kuliah,
ketiduran. Begitu bangun aku langsung cabut. Ma’af ya...”
“ Ku ma’afkan... tapi apa sih
yang penting sekali, yang kak Irul mau bicarakan?”
Irul menarik nafas dalam – dalam,
melirik sekilas ke arahku dengan pandangan kikuk, lalu tersenyum.
“ Aku butuh bantuanmu...”
“Aku? Apa...?”
“ Tapi kayanya kamu ga bakalan
bisa bantu deh. Ga jadi lah...”
Aku merengut kesal. Menyebalkan
sekali orang ini, sudah minta tolong, datang terlambat, dan sekarang ...
“ Ya sudah...” aku beranjak
meninggalkan Irul dengan perasaan marah. Tiba – tiba dia menarik tanganku dan
memaksaku duduk kembali.
“Ambekan...” godanya. Aku
memandangnya sebal.
“ Aku minta bantuan kamu, tuk
jadi kurir”
“ Kurir?” tanyaku heran, ia
mengangguk mantap tanpa perduli expresi terkejutku.
“Maksud kakak?”
“ Ada seorang cewe, yang menarik
perhatian aku...”
Aku menahan nafas, entah kenapa
dadaku serasa sesak.
“ Jadi aku minta bantuan kamu,
tuk sampaikan isi hatiku ke dia...”
“Kenapa harus aku? Kenapa ga
suruh orang lain aja?”
“ Cuma kamu yang aku percaya,
soalnya dia dekat sekali sama kamu”
Aku mengernyitkan kening, menerka
– nerka siapa kira – kira yang dekat denganku, karena setahu aku, aku tidak
dekat dengan siapa – siapa. Aku menatapnya makin sebal, ingn sekali ku pukul
kepala orang ini, supaya dia bangun dari tidurnya.
“ Kak, mending kaka cuci muka
gih, biar bangun. Tidurnya kapan, ngelindurnya sekarang”
“ Mau bantuin ga?”
“ ga!!”
“ Beneran? Ga nyesel?”
“Buat apa? Kurang kerjaan”
sungutku.
“ Tolong bilang sama dia ‘aku suka dia, dan aku mau dia jadi pacar
aku’ bilang gitu ke dia ya...”
“Sampaikan aja sendiri...” Aku
bediri dan berlalu dari hadapannya. Aku benar – benar kesal.
“Lenata... kamu ga mau tau, siapa
gadis yang beruntung itu, bagaimana kamu mau sampaikan perasaanku ke dia?”
“Aku ga perduli, bukan urusan
aku...”
“Yakin??”
“Seribu persen yakin, aku ga
perduli!!!” teriakku seraya berlari kedalam kelas.
“Tapi aku perduli dan butuh
jawabannya, sekarang Lenata...” Dia mengejarku, dan duduk disebelahku.
Ni orang benar2 aneh bathinku, ingin
rasanya aku melempar tasku ke wajahnya yang menyebalkan itu. Entah mengapa ada
perasaan aneh, saat mendengar dia menyukai seseorang.
“Kamu beneran ga mau bantu dan ga
kasihan sama aku?”
Aku pura – pura tak mendengar
dengan focus pada buku materi lesku, walau kenyataannya aku hanya membolak
balikan halamannya.
“ Nama cewe itu, Lenanta
Arianindya...” Bisiknya ditelingaku dan segera menghambur ke meja diseberangku
dengan wajah yang benar – benar menyebalkan. Aku melotot, dia tersenyum jahil.
Entah mengapa wajahku terasa sangat panas.
“Lenata sayang... saat kamu membaca pesan
ini, aku sedang berada di atas kapal yang berlayar menuju Nabire, ma’afkan aku,
tidak sempat memberitahumu tentang kepergianku. Jika aku sudah sampai di
pelabuhan Nabire aku akan menelpon kamu. Baik – baik di sana ya sayang.. dan
tunggu aku pulang. Love – Irul – “
Aku menatap secarik kertas itu
tanpa berkedip. Surat ini baru sampai tadi siang. Tiga hari setelah
keberangkatannya dengan kapal laut menuju Nabire . Lagi lagi, kelakuannya tidak
juga berubah. Masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Selalu pergi tanpa
pamit, dan memberi kabar melalui surat saat dalam perjalanan ke suatu tempat.
Hoby traveling dan jiwa petualangnya tak bisa ku cegah.
“ Aku ingin mengelilingi
Indonesia sebelum usiaku 30 tahun Lenata” Ujarnya dua tahun yang lalu, saat aku
mempertanyakan hoby nya.
“ Aku tidak akan bangga sudah
berkeliling dunia, jika aku belum mengelilingi Indonesia. Negeri kita ini indah
koq. Lebih indah dari negara – negara luar. “
Dan begitulah, Yang sampai ke
tanganku, hanyalah foto – foto petualangannya dan, post card dari berbagai
belahan Indonesia.
“Aku
mau putus...” Kataku setelah empat tahun kami bersama. Irul memandangku
terkejut.
“ Aku ga mau terus seperti ini,
sampai kapan kamu akan terus berkeliling? Menelantarkan study kamu, pekerjaan kamu,
demi hoby kamu yang jalan – jalan seperti itu “
Irul masih terdiam.
“ Aku perempuan kak, aku punya
cita cita, keinginan dan target dalam hidup aku. Aku ga bisa menunggu
selamanya”
“ Aku janji, setelah perjalananku
yang terakhir, aku akan memenuhi permintaan mu. Aku harap kamu bersabar ya, please...” hibanya. Dan lagi – lagi
aku menyerah. Luluh. Tapi janji tinggal janji, aku berfikir wakatobi adalah
tujuan terakhir dia, ternyata, masih ada beberaa tempat yang menjadi target
berikutnya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Lenata, aku hanya ingin mengatakan padamu
sesuatu yang mungkin kamu akan bertanya – tanya, tapi suatu saat nanti kamu akan
menemukan jawabannya sendiri. Mulai saat ini, ini adalah pesan dan kabar
terakhir dari aku. Kamu tak perlu lagi
repot – repot menelpon ke rumah, karena aku tidak akan ada. Bukan aku
menghindarimu, bukan aku ingin melupakanmu, hanya saja aku tak ingin mengingat
semua kenangan indah tentangmu dan tentang kita. Dan aku juga berharap, kamu
bisa melupakan aku, dan melanjutkan hidupmu. Di manapun aku berada, aku akan
selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Tapi saat ini, yang terbaik bagi kita
adalah saling melupakan. Ma’afkan aku dan lupakanlah aku. Selamat tinggal
Lenata, aku berharap kita bisa berjumpa dilain kesempatan. Maafkan aku karena
harus mengatakan ini kepadamu. Yours – Irul –“
Tanganku bergetar memegang kertas
berisi pesan Irul yang ditulis 3 hari sebelum ajal menjemputnya. Aku tidak
pernah tahu sakit yang dideritanya. Aku tidak pernah tahu dia menahan rasa
sakit itu selama ini sendirian. Dia tidak pernah terlihat seperti orang yang
sakit. Dia selalu ceria, penuh semangat dan selalu menularkan energi positifnya
pada orang lain. Aku merasakan pipiku hangat, pandanganku kabur.
“ Surat Ini aku temukan terselip
di antara buku jurnalnya, bersama fotomu. Rupanya dia belum sempat mengirimkan
surat ini padamu, Lenata” Kak Anton berbisik lirih.
“ Aku kesulitan mengontakmu,
alamatmu, kutemukan di kotak penyimpanan surat – surat darimu. Selama ini dia
menyimpannya dengan rapih, Lenata. Sampai akhir hidupnya, dia masih memikirkan
kamu. Dia begitu menyayangi kamu”
Aku tergugu di bahu kak Anton.
Aku tak bisa berkata apapun, rasa sedih, marah dan kecewa pada diriku sendiri
membuatku kehilangan kata. Aku menyesal. Sebulan sebelum kepergiannya ke Raja
Ampat, dia berkata ingin menemuiku, tapi aku tak pernah menghiraukannya. Rasa
marah telah menguasaiku, hingga aku tak melihat ada sesuatu yang lain padanya.
Dan mimpi itu, mimpi itu teramat sangat jelas. Tepat di malam saat malaikat
maut menjemputnya, dia masih berpamitan padaku lewat mimpi. Wajahnya begitu
tenang dan bersinar, pandangan mata itu terasa begitu menentramkan. Dan
bodohnya aku, tidak menyadari mimpi itu sebagai firasat. Aku tetap bekerja
seperti biasa pada pagi harinya, dan malam tetap sibuk dengan jadwal kuliahku.
“ Kamu bisa pulang sekarang
Lenata?” Tanya mama diseberang telpon tadi pagi
“Ada apa ma?” tanyaku tak
menjawab pertanyaan mama
“ Ada kakaknya Irul di rumah. Dia
menunggu kamu dan mama harap kamu bisa segera pulang “
Tanpa banyak berkata, aku segera
tancap gas dengan berjuta pertanyaan berputar di kepalaku. Tak pernah mama
meyuruhku pulang, bila tidak ada alasan yang begitu kuat untuk memaksaku
pulang.
Kak Anton berdiri terpaku
menyambut kedatanganku, mama mengelus pundakku mencoba memberi kekuatan.
“ Irul meninggal dunia, karena
komplikasi ginjal, disebuah rumah sakit di Raja Ampat, dua minggu lalu “ kak
Anton menyodorkan secarik kertas berwarna merah jambu, berisi tulisan tangan
Irul. Surat yang dia tulis terakhir kalinya untuk ku sebelum meninggal. Aku tak
mampu berkata, kerongkonganku tercekat. Aku tak percaya apa yang ku dengar dan
kulihat. Tiba – tiba dunia terasa gelap.
Gundukan
tanah itu masih merah, taburan bunga – bunga telah mengering diatasnya.
Kuletakkan karangan bunga di bawah nisannya. Dengan hati – hati aku menuangkan
air mawar diatas pusaranya dan menaburkan kelopak mawar, sehelai demi sehelai.
Aku masih tak percaya, melihat tulisan yang tertera di kayu nisan itu. ‘Birrul Triyanto, 17 maret 1975 – 07 Mei 2000’
Aku ingin sekali membongkar gundukan tanah ini, untuk memastikan bahwa kamu
memang terbaring disana, kamu telah meninggalkan aku, dan orang – orang yang
kamu cintai lebih dulu. Aku tidak ingin percaya bahwa tubuh kamu ada di dalam
tanah ini. Aku selalu berharap, bahwa aku telah salah mengunjungi makan
seseorang. Dan kamu, kamu akan berdiri di sudut sana, memanggil namaku, dan mentertawakan
aku, mengatakan bahwa Kak Anton telah berhasil membodohi aku. Bahwa kamu
melakukan ini karena kamu putus asa, karena aku tidak pernah membalas surat
kamu, tidak pernah mau menjawab telpon dari kamu. Lalu aku akan berlari
kearahmu, dan memeluk kamu erat. Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan
petualanganmu sendirian. Aku akan menemanimu, dan mengikuti kemanapun kamu
pergi. Aku akan meninggalkan semuanya, supaya aku bisa terus bersama kamu. Aku
terus menunggu kamu, hingga hari berangsur gelap, dan dengan setengah menyeretku,
Kak Anton membawaku pulang. Tidaaakk... aku masih ingin menunggu kamu, masih
berharap kamu hadir dan mengajakku pulang. Aku ingin melihat wajahmu, untuk
terakhir kalinya... Dan wajah dalam mimpiku itulah yang kulihat untuk terakhir
kalinya, karena sejak sekarang dan selamanya aku tak bisa lagi melihat
wajahmu...
Kak
Irul, 14 tahun telah berlalu sejak saat itu. Aku melanjutkan hidup seperti yang
kau pinta. Aku menemukan pasangan yang baik, sangat baik. Tapi dia tidak mirip
denganmu. Aku rasa, seleraku dalam soal pria telah berubah banyak. Aku tidak
lagi suka pada pria kurus sepertimu. Aku menyukai pria yang berbadan tegap. Dan
aku memaksa dia untuk rajin olah raga, dan mengikuti pola hidup sehat.
Hehehe... Kak Irul, ini mungkin terakhir kali aku mengunjungi tempat
peristirahantanmu yang terakhir. Aku membawa serta dua buah hati aku. Aku ingin
mereka mengenalmu. Mengenal seseorang yang sangat berarti buatku. Mereka
mengenalmu sebagai seorang paman yang punya jiwa petualang, dan sangat
mencintai keindahan negerinya. Aku akan pindah ke negeri yang jauh. Mengikuti
tugas suamiku. Jika aku rindu padamu, aku akan selalu mengirim doa untukmu,
seperti yang selama ini aku lakukan. Aku harap kamu hidup bahagia di sana.
Selamat tinggal kak. Tenanglah di alammu...
cerita ini hanya fiksi, kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian, hanya kebetulan belaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar