Senin, 26 Januari 2015

Pesan Terakhir



Di luar gelap sekali, gelap pekat. Hingga aku tak dapat melihat sekelebat cahaya pun. Hanya terdengar bunyi roda KRL yang bergesekan dengan batalan rel. Kereta melaju sangat cepat, di dalam gerbong tak ada penumpang lain, hanya aku berdua dengan Irul. Tiba – tiba dia menggenggam tanganku, dan menyelipkan sebuah cincin di jari manisku. Aku menatapnya terkejut. Dia hanya tersenyum, membuat wajahnya yang bersih terlihat semakin bersinar.

“ Memangnya kak Irul mau kemana? Kenapa kasih Lenata cincin ini?” tanyaku.
“Kak Irul mau jalan – jalan, Lenata jangan nakal ya...” Bisiknya pelan, masih menatap wajahku dengan pandangan matanya yang teduh.
Aku menundukkan wajahku memperhatikan benda bulat berwarna putih yang melingkar di jari masihku. Suara Sirene Kereta meraung memecah kesunyian.
Aku tersentak, mengerjap ngerjapkan mataku dan melihat ke arah jam beker di atas meja. Jam 2.30 dini hari. Aku menghela nafas, ternyata hanya mimpi. Bunga tidur. Aku mencoba memejamkan mataku kembali, tapi hingga adzan subuh berkumandang, aku tak bisa tidur lagi. Rasa kantukku entah terbang kemana. 
          Hari ini aku berangkat ke tempat les bahasa Inggrisku dengan malas. Kelas Mr. Ichsan semakin lama semakin membosankan. Teman – teman kursusku hanya berisi sekumpulan ABG alay yang lebay. Entah apa maksud orang tua mereka membuang – buang uang dengan memasukan mereka ke tempat les bahasa Inggris. Toh mereka juga tidak belajar. Hanya kumpul – kumpul tak jelas tujuannya. Setiap kali diajak diskusi yang terjadi hanya obrolan tanpa arti. Aku sebenarnya malas mengambil kelas ini. Tapi hanya satu kelas inilah yang bisa aku ikuti sepulang sekolah. Jam yang lain terlalu siang dan terlalu malam. Aku tak bisa ambil kelas malam, karena jarak tempuh tempat les ke rumah lumayan jauh dan harus naik angkot. Kalau pulang terlalu malam, aku takut. Klise... takut di culik. Karena wajahku yang manis ini mungkin akan membuat orang jahat tertarik untuk menculikku... Itu kata – kata nenekku sih. Hehehe...
Dan di sinilah aku, mengambil tempat di sudut kelas, agar tak terlalu mencolok perhatian. Aku senang duduk disudut, jadi aku terbebas dari teriakan – teriakan dan celoteh – celoteh yang sangat memekakan telinga. Itu sangat mengganggu. Sebenarnya mereka anak – anak baik sih, tapi mereka terlalu berisik. Dan aku tak suka. Aku kesini untuk belajar, bukan sekedar menghabiskan waktu.
“Good afternoon, class...” Mr. Ichsan mengawali kelas, sambil tersenyum, yang kata orang sih senyumnya manis, tapi buatku lebih kepada menyeringai bagai srigala lapar. Aku menjawab salamnya dengan malas.
“ owh... before we start, i would like to introduce you to our new friends here. Ok ... you both... please introduce your self to the class” aku mengikuti telunjuk Mr. Ichsan, oohh.. ternyata ada 2 murid baru dikelas. Mereka dua orang mahasiswa sebuah PTS semester dua. Lumayan lah, ada orang yang berakal di kelas ini, dan yang terpenting mereka manis – manis. Walau aku tak tahu apa korelasinya, aku malas berfikir. 

Namanya Birrul Triyanto dan panggilannya Irul. Tinggi, kecil, hitam manis dan cenderung jutek. Tak banyak bicara. Sekalinya bicara, membuatmu malas berbicara untuk kedua kalinya dengan dia. Dan hari ini, aku satu kelompok diskusi dengan dia. Hey... ternyata dia tidak seperti yang ku duga, dia smart dan baik. Banyak ide – ide yang kurasa nyentrik. Hari ini pembahasan tentang “survive on an isolated island” Di sana kita hanya diperbolehkan membawa barang – barang yang sekiranya kita perlukan untuk bertahan di sebuah pulau terpencil. Disaat pemikiran kawan – kawan yang lain, sibuk membawa berbagai mcam jenis tanaman yang akan di tanam di pulau tersebut, dia berkata hanya akan membawa bensin, sebuah parang dan sebuah motor penggerak. Semua terheran – heran dengan idenya itu tak terkecuali aku dan MR. Ichsan.
“Why do you choose those kind of things, why can’t you choose like anybody else? “
“ Well... sir, They’re planning to stay and live on that isolated island, while i’m planning to escape from that damn island, and look for a modern Island. I would build a boat, ride on it, and bye... bye...”
Seketika kelas hening. Dan tiba-tiba Mr. Ichsan bertepuk tangan keras sekali, membuat kami semua terkejut.
“What a brilliant, idea!!!” gelaknya.
“ I been giving this disscussion for my entire carrier here, and never had an answer like that. Good Job...” Mr. Ichsan menepuk – nepuk pundaknya.
Dia tersenyum penuh kemenangan dan mengerling ke arahku. Ia sempat mencibir dan mencemoohku, saat aku memilih barang – barang seperti  yang dipilih oleh hampir seluruh teman sekelasku.
Sejak hari itu, aku selalu senang jika satu kelompok dengannya. Bahkan tak jarang aku dengan sukarela menawarkan diri untuk bergadung dengan kelompok diskusinya.

                Aku melirik arlojiku, hari ini aku datang terlalu awal. Kelas baru akan dimulai setengah jam kemudian. Aku menghela nafas, kupandangi dengan bosan kolam lele dumbo tempatku menunggu, Ikan lelenya besar – besar dan kumisnya panjang, aku bergidik geli. Aku masih suka teheran – heran kenapa orang bisa dengan lahap menyantap hewan menakutkan ini? Bagaimana tidak? Tubuhnya yang licin, berkumis dan dengan mulut yang begitu lebar, buatku sangat menakutkan. Aku melemparkan sepotong roti yang sejak tadi ku pegang. Dan dengan cepat habis disambar oleh mereka, membuatku makin bergidik mual.
“Lenata...” Aku menoleh ke si empunya suara, Dia disana setengah berlari menghampiriku. Dengan napasnya yang terengah – engah dia mencoba berbicara. Aku menyodorkan botol air mineralku padanya, yang dengan cepat disambar dan langsung tandas. Aku terbelalak, dia tersenyum jahil.
“Nanti, aku belikan lagi...” katanya seraya menyeka keringat di dahinya dengan tissu yang kusodorkan.
“ Belum lama nunggu kan?” tanyanya setelah nafasnya teratur
Aku melirik arlojiku, “ sebentar, baru 30 menit, belum 2 jam” Sahutku ketus. Dia tergelak.
“Sorry, tadi aku pulang kuliah, ketiduran. Begitu bangun aku langsung cabut. Ma’af ya...”
“ Ku ma’afkan... tapi apa sih yang penting sekali, yang kak Irul mau bicarakan?”
Irul menarik nafas dalam – dalam, melirik sekilas ke arahku dengan pandangan kikuk, lalu tersenyum.
“ Aku butuh bantuanmu...”
“Aku? Apa...?”
“ Tapi kayanya kamu ga bakalan bisa bantu deh. Ga jadi lah...”
Aku merengut kesal. Menyebalkan sekali orang ini, sudah minta tolong, datang terlambat, dan sekarang ...
“ Ya sudah...” aku beranjak meninggalkan Irul dengan perasaan marah. Tiba – tiba dia menarik tanganku dan memaksaku duduk kembali.
“Ambekan...” godanya. Aku memandangnya sebal.
“ Aku minta bantuan kamu, tuk jadi kurir”
“ Kurir?” tanyaku heran, ia mengangguk mantap tanpa perduli expresi terkejutku.
“Maksud kakak?”
“ Ada seorang cewe, yang menarik perhatian aku...”
Aku menahan nafas, entah kenapa dadaku serasa sesak.
“ Jadi aku minta bantuan kamu, tuk sampaikan isi hatiku ke dia...”
“Kenapa harus aku? Kenapa ga suruh orang lain aja?”
“ Cuma kamu yang aku percaya, soalnya dia dekat sekali sama kamu”
Aku mengernyitkan kening, menerka – nerka siapa kira – kira yang dekat denganku, karena setahu aku, aku tidak dekat dengan siapa – siapa. Aku menatapnya makin sebal, ingn sekali ku pukul kepala orang ini, supaya dia bangun dari tidurnya.
“ Kak, mending kaka cuci muka gih, biar bangun. Tidurnya kapan, ngelindurnya sekarang”
“ Mau bantuin ga?”
“ ga!!”
“ Beneran? Ga nyesel?”
“Buat apa? Kurang kerjaan” sungutku.
“ Tolong bilang sama dia ‘aku suka dia, dan aku mau dia jadi pacar aku’ bilang gitu ke dia ya...”
“Sampaikan aja sendiri...” Aku bediri dan berlalu dari hadapannya. Aku benar – benar kesal.
“Lenata... kamu ga mau tau, siapa gadis yang beruntung itu, bagaimana kamu mau sampaikan perasaanku ke dia?”
“Aku ga perduli, bukan urusan aku...”
“Yakin??”
“Seribu persen yakin, aku ga perduli!!!” teriakku seraya berlari kedalam kelas.
“Tapi aku perduli dan butuh jawabannya, sekarang Lenata...” Dia mengejarku, dan duduk disebelahku.
Ni orang benar2 aneh bathinku, ingin rasanya aku melempar tasku ke wajahnya yang menyebalkan itu. Entah mengapa ada perasaan aneh, saat mendengar dia menyukai seseorang.
“Kamu beneran ga mau bantu dan ga kasihan sama aku?”
Aku pura – pura tak mendengar dengan focus pada buku materi lesku, walau kenyataannya aku hanya membolak balikan halamannya.
“ Nama cewe itu, Lenanta Arianindya...” Bisiknya ditelingaku dan segera menghambur ke meja diseberangku dengan wajah yang benar – benar menyebalkan. Aku melotot, dia tersenyum jahil. Entah mengapa wajahku terasa sangat panas. 

                Lenata sayang... saat kamu membaca pesan ini, aku sedang berada di atas kapal yang berlayar menuju Nabire, ma’afkan aku, tidak sempat memberitahumu tentang kepergianku. Jika aku sudah sampai di pelabuhan Nabire aku akan menelpon kamu. Baik – baik di sana ya sayang.. dan tunggu aku pulang. Love – Irul – “
Aku menatap secarik kertas itu tanpa berkedip. Surat ini baru sampai tadi siang. Tiga hari setelah keberangkatannya dengan kapal laut menuju Nabire . Lagi lagi, kelakuannya tidak juga berubah. Masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Selalu pergi tanpa pamit, dan memberi kabar melalui surat saat dalam perjalanan ke suatu tempat. Hoby traveling dan jiwa petualangnya tak bisa ku cegah.
“ Aku ingin mengelilingi Indonesia sebelum usiaku 30 tahun Lenata” Ujarnya dua tahun yang lalu, saat aku mempertanyakan hoby nya.
“ Aku tidak akan bangga sudah berkeliling dunia, jika aku belum mengelilingi Indonesia. Negeri kita ini indah koq. Lebih indah dari negara – negara luar. “
Dan begitulah, Yang sampai ke tanganku, hanyalah foto – foto petualangannya dan, post card dari berbagai belahan Indonesia. 

                “Aku mau putus...” Kataku setelah empat tahun kami bersama. Irul memandangku terkejut.
“ Aku ga mau terus seperti ini, sampai kapan kamu akan terus berkeliling? Menelantarkan study kamu, pekerjaan kamu, demi hoby kamu yang jalan – jalan seperti itu “
Irul masih terdiam.
“ Aku perempuan kak, aku punya cita cita, keinginan dan target dalam hidup aku. Aku ga bisa menunggu selamanya”
“ Aku janji, setelah perjalananku yang terakhir, aku akan memenuhi permintaan mu. Aku harap kamu bersabar ya, please...” hibanya. Dan lagi – lagi aku menyerah. Luluh. Tapi janji tinggal janji, aku berfikir wakatobi adalah tujuan terakhir dia, ternyata, masih ada beberaa tempat yang menjadi target berikutnya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lenata, aku hanya ingin mengatakan padamu sesuatu yang mungkin kamu akan bertanya – tanya, tapi suatu saat nanti kamu akan menemukan jawabannya sendiri. Mulai saat ini, ini adalah pesan dan kabar terakhir  dari aku. Kamu tak perlu lagi repot – repot menelpon ke rumah, karena aku tidak akan ada. Bukan aku menghindarimu, bukan aku ingin melupakanmu, hanya saja aku tak ingin mengingat semua kenangan indah tentangmu dan tentang kita. Dan aku juga berharap, kamu bisa melupakan aku, dan melanjutkan hidupmu. Di manapun aku berada, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Tapi saat ini, yang terbaik bagi kita adalah saling melupakan. Ma’afkan aku dan lupakanlah aku. Selamat tinggal Lenata, aku berharap kita bisa berjumpa dilain kesempatan. Maafkan aku karena harus mengatakan ini kepadamu. Yours – Irul –“ 

Tanganku bergetar memegang kertas berisi pesan Irul yang ditulis 3 hari sebelum ajal menjemputnya. Aku tidak pernah tahu sakit yang dideritanya. Aku tidak pernah tahu dia menahan rasa sakit itu selama ini sendirian. Dia tidak pernah terlihat seperti orang yang sakit. Dia selalu ceria, penuh semangat dan selalu menularkan energi positifnya pada orang lain. Aku merasakan pipiku hangat, pandanganku kabur.
“ Surat Ini aku temukan terselip di antara buku jurnalnya, bersama fotomu. Rupanya dia belum sempat mengirimkan surat ini padamu, Lenata” Kak Anton berbisik lirih.
“ Aku kesulitan mengontakmu, alamatmu, kutemukan di kotak penyimpanan surat – surat darimu. Selama ini dia menyimpannya dengan rapih, Lenata. Sampai akhir hidupnya, dia masih memikirkan kamu. Dia begitu menyayangi kamu”
Aku tergugu di bahu kak Anton. Aku tak bisa berkata apapun, rasa sedih, marah dan kecewa pada diriku sendiri membuatku kehilangan kata. Aku menyesal. Sebulan sebelum kepergiannya ke Raja Ampat, dia berkata ingin menemuiku, tapi aku tak pernah menghiraukannya. Rasa marah telah menguasaiku, hingga aku tak melihat ada sesuatu yang lain padanya. Dan mimpi itu, mimpi itu teramat sangat jelas. Tepat di malam saat malaikat maut menjemputnya, dia masih berpamitan padaku lewat mimpi. Wajahnya begitu tenang dan bersinar, pandangan mata itu terasa begitu menentramkan. Dan bodohnya aku, tidak menyadari mimpi itu sebagai firasat. Aku tetap bekerja seperti biasa pada pagi harinya, dan malam tetap sibuk dengan jadwal kuliahku.
“ Kamu bisa pulang sekarang Lenata?” Tanya mama diseberang telpon tadi pagi
“Ada apa ma?” tanyaku tak menjawab pertanyaan mama
“ Ada kakaknya Irul di rumah. Dia menunggu kamu dan mama harap kamu bisa segera pulang “
Tanpa banyak berkata, aku segera tancap gas dengan berjuta pertanyaan berputar di kepalaku. Tak pernah mama meyuruhku pulang, bila tidak ada alasan yang begitu kuat untuk memaksaku pulang. 
Kak Anton berdiri terpaku menyambut kedatanganku, mama mengelus pundakku mencoba memberi kekuatan.
“ Irul meninggal dunia, karena komplikasi ginjal, disebuah rumah sakit di Raja Ampat, dua minggu lalu “ kak Anton menyodorkan secarik kertas berwarna merah jambu, berisi tulisan tangan Irul. Surat yang dia tulis terakhir kalinya untuk ku sebelum meninggal. Aku tak mampu berkata, kerongkonganku tercekat. Aku tak percaya apa yang ku dengar dan kulihat. Tiba – tiba dunia terasa gelap.
                Gundukan tanah itu masih merah, taburan bunga – bunga telah mengering diatasnya. Kuletakkan karangan bunga di bawah nisannya. Dengan hati – hati aku menuangkan air mawar diatas pusaranya dan menaburkan kelopak mawar, sehelai demi sehelai. Aku masih tak percaya, melihat tulisan yang tertera di kayu nisan itu. ‘Birrul Triyanto, 17 maret 1975 – 07 Mei 2000’ Aku ingin sekali membongkar gundukan tanah ini, untuk memastikan bahwa kamu memang terbaring disana, kamu telah meninggalkan aku, dan orang – orang yang kamu cintai lebih dulu. Aku tidak ingin percaya bahwa tubuh kamu ada di dalam tanah ini. Aku selalu berharap, bahwa aku telah salah mengunjungi makan seseorang. Dan kamu, kamu akan berdiri di sudut sana, memanggil namaku, dan mentertawakan aku, mengatakan bahwa Kak Anton telah berhasil membodohi aku. Bahwa kamu melakukan ini karena kamu putus asa, karena aku tidak pernah membalas surat kamu, tidak pernah mau menjawab telpon dari kamu. Lalu aku akan berlari kearahmu, dan memeluk kamu erat. Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan petualanganmu sendirian. Aku akan menemanimu, dan mengikuti kemanapun kamu pergi. Aku akan meninggalkan semuanya, supaya aku bisa terus bersama kamu. Aku terus menunggu kamu, hingga hari berangsur gelap, dan dengan setengah menyeretku, Kak Anton membawaku pulang. Tidaaakk... aku masih ingin menunggu kamu, masih berharap kamu hadir dan mengajakku pulang. Aku ingin melihat wajahmu, untuk terakhir kalinya... Dan wajah dalam mimpiku itulah yang kulihat untuk terakhir kalinya, karena sejak sekarang dan selamanya aku tak bisa lagi melihat wajahmu...

                Kak Irul, 14 tahun telah berlalu sejak saat itu. Aku melanjutkan hidup seperti yang kau pinta. Aku menemukan pasangan yang baik, sangat baik. Tapi dia tidak mirip denganmu. Aku rasa, seleraku dalam soal pria telah berubah banyak. Aku tidak lagi suka pada pria kurus sepertimu. Aku menyukai pria yang berbadan tegap. Dan aku memaksa dia untuk rajin olah raga, dan mengikuti pola hidup sehat. Hehehe... Kak Irul, ini mungkin terakhir kali aku mengunjungi tempat peristirahantanmu yang terakhir. Aku membawa serta dua buah hati aku. Aku ingin mereka mengenalmu. Mengenal seseorang yang sangat berarti buatku. Mereka mengenalmu sebagai seorang paman yang punya jiwa petualang, dan sangat mencintai keindahan negerinya. Aku akan pindah ke negeri yang jauh. Mengikuti tugas suamiku. Jika aku rindu padamu, aku akan selalu mengirim doa untukmu, seperti yang selama ini aku lakukan. Aku harap kamu hidup bahagia di sana. Selamat tinggal kak. Tenanglah di alammu...

cerita ini hanya fiksi, kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian, hanya kebetulan belaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar