Jumat, 26 Oktober 2012

Aku dan Bahagia Kita

It's 12.38 AM, and i still awake...

Entah kenapa hari - hari ini ada perasaan yang aku sendiri ga ngerti apa namanya. Berawal dari perjumpaan yang tak sengaja, pagi itu di stasiun kereta. Sosok yang telah lama menghilang, tapi terkadang masih menyisakan kerinduan. Ah... dia telah jauh berubah, semakin cantik dan anggun dalam balutan busana muslimah yang menutup rapat auranya. Tiga belas tahun yang lalu, dia adalah sosok gadis yang ceria yang mengikuti fashion sesuai jamannya. Masih ku ingat betul rajukan manjanya sambil bergelayut di lengan ini. Dia begitu mungil, hingga sering tenggelam dalam dekapan ku. Masih ku ingat betul suara manja namun tegas ketika menanyakan arah hubungan kami...

" Mas serius ga sih sama aku?" tanyanya seraya menatap lekat ke dalam bola mataku. Tatapan itu begitu tajam, hingga mampu menggetarkan hatiku setiap kali mata kami bertemu. Aku hanya tersenyum, lalu dengan gemas ia akan mencubit lenganku, hingga aku menjerit kesakitan.
" Maaasss... "
" Iyaaa... apa sih?"
" Mas serius ga?!"
" Serius apa?"
" Sama akuuuuu...."
" Kalau aku serius emang kenapa?"
" Kenapa mas ga pernah bilang suka sama aku?"

Aku menggaruk garuk kepala ku yang tidak gatal, Hanya lelaki bodoh yang tidak menyukai gadis manis di depan ku ini, Tapi lidah ku terasa kelu, hanya tuk sekedar mengucap kata suka. bibirku terkunci rapat saat ingin ku utarakan perasaanku sesungguhnya. Aku hanya bisa merutuki kebodohan dan kepengecutanku. Dan aku akan membiarkan gerutuan manjanya hingga kereta yang kami tunggu - tunggu datang dan membawa kami dalam kepadatan yang menyesakkan. Tubuhnya yang mungil membuat siapapun tak tega membiarkannya tenggelam dalam lautan manusia dengan beragam aroma yang memusingkan. Aku selalu ingin melindunginya, selalu mendekapnya erat dalam rengkuhanku agar tidak terdorong kesana kemari oleh penumpang yang lain, yang harus berjibaku dalam angkutan yang tak memnuhi standar kemanusiaan ini. Tak pernah ada rasa lelah saat aku bersamanya, Celotehan riangnya selalu membuat ku tertawa, dan membuatku selalu ingin cepat cepat bertemu dengannya. Andai saja aku punya keberanian untuk mengungkapkan yang sesungguhnya...

Hingga akhirnya saat itu tiba, saat dimana dengan berat hati aku harus melupakannya, harus menjauh dari