Aku menyukainya, sejak dulu, sejak kami sekelas di kelas 3 SMP. Ia bukan termasuk siswa populer, tapi termasuk siswa yang pandai. Dia bukan juga termasuk siswa yang selalu bergerombol membuat onar. Tapi yang membuatnya spesial , ia seorang siswa yang manis di mataku. Aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Mencuri-curi pandang padanya. Dan merasa bahagia saat ia meminjam pensil, atau pengraut. Aku selalu berusaha mencari kesempatan utuk bisa sekedar mencari bahan pembicaraan dengannya. Setahun berlalu begitu cepat. Aku merasa kesempatan terakhirku untuk bisa dekat dengannya saat perpisahan sekolah ke pantai salira. Namun usahaku sia - sia. dia tak pernah menyambut perasaanku. Aku hanya cukup merasa senang saat aku bisa mengambil fotonya dengan kameraku. Setelah lulus dari SMP, aku benar - benar kehilangan kontaknya.
Dua tahun kemudian, aku bertemu lagi dengannya. DIa disana, didepan sekolahku, dengan seragam putih abu - abunya. Duduk diatas sepeda motornya. Ia bertambah tinggi dan semakin manis. Aku menatapnya dengan tatapan berbinar, Sekuat tenaga aku berusaha mengatur nafasku. Dengan perasaan gemetar kuhampiri dia yang tengah berbincang dengan teman sekolahku, sekaligus rivalku di smp. Dengan perasaan canggung aku berusaha menyapanya :
" Hai Devan, apa kabar?" sapaku seriang mungkin dan senormal mungkin, walau suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri. Ia menoleh padaku sambil tersenyum, membuat jantungku hampir berhenti berdetak. Senyum yang selama ini selalu menghiasi mimpi - mimpiku, Senyum yang selalu membuatku bergetar setiap kali aku mengingatnya.
" Baik Eva..." jawabnya datar. Sekilas kulihat matanya yang canggung. Dan kulihat expresi muka Aline yang tak suka melihat kehadiranku.
" Aku duluan ya..." Pamitku yang dijawab dengan anggukan kepala mereka berdua. Kakiku berat meninggalkan tempat mereka berdiri. dadaku terasa sesak. aku ga ngerti perasaan apakah ini. Kenapa begitu menyakitkan, mataku panas, tenggoroanku terasa tercekat. Aku ingin cepat - cepat berlalu dari tempat itu.
Esoknya Aline mendatangiku ke kelas saat jam istirahat.
" Dapat salam dari Devan, Dia nanyain lo udah punya pacar apa belom? "
" Ooh ya?" aku mengerjap - ngerjapkan mataku tak percaya, dadaku kembali bergemuruh
" Iya, trus gw bilang aja, ga tau tuh, keqnya sih dia gagal mulu sama cowo..."
" Apa...??"
Aline manggut - manggut.
" Dia sering ya ke sini?" tanyaku penuh rasa ingin tahu
" Ya, dia sering kesini, kemarin kita dah janjian"
" Janjian? "
" Iya... kita sering koq jalan bareng"
" Maksud lo, Jadian sama dia? " tanyaku pahit. Entah kenapa aku merasa sebal sekali pada Aline, aku marah padanya. Aline hanya tersenyum, dan meninggalkanku yang masih terkejut tak percaya. Bel tanda usai isirahat meraung - raung, memukul - mukul hatiku yang entah kenapa kembali sesak, pandanganku nanar, tak terasa bulir bening mengalir dari mataku.
Sejak saat itu, aku bertekad untuk melupakannya. Tak ingin lagi tahu tentang Devan, tak ingin lagi mendengar namanya disebut. Aku benar - benar ingin melupakan sosok Devan. Tapi apa dikata, bukannya melupakan sosok Devan, aku malah bertemu dengan sosok yang sangat mirip dengan Devan. Ia adalah teman satu kelas di tempat les bahasa Inggris. Saat itu dia mahasiswa semester 4 di sebuah PTS swasta. Awal aku bertemu Iqbal, aku sekuat mungkin menghindarinya. Karena sifat usil dan gerak geriknya membuatku semakin merindukan Devan. Tapi justru dengan sikap acuh tak acuhku yang membuat Iqbal mengejarku. Dan akhirnya aku menyerah. Aku menerima cinta Iqbal. Pesona Devan seolah melebur dalam diri Iqbal.
Dan sekarang, setelah 21 tahun, Dia berdiri disana, dengan senyumnya yang masih sangat jelas ku ingat. Tatapannya masih sehangat dulu, Untuk apa? Kenapa dia datang saat aku telah bersusah payah tuk melupakannya... ?
Sejak saat itu, aku bertekad untuk melupakannya. Tak ingin lagi tahu tentang Devan, tak ingin lagi mendengar namanya disebut. Aku benar - benar ingin melupakan sosok Devan. Tapi apa dikata, bukannya melupakan sosok Devan, aku malah bertemu dengan sosok yang sangat mirip dengan Devan. Ia adalah teman satu kelas di tempat les bahasa Inggris. Saat itu dia mahasiswa semester 4 di sebuah PTS swasta. Awal aku bertemu Iqbal, aku sekuat mungkin menghindarinya. Karena sifat usil dan gerak geriknya membuatku semakin merindukan Devan. Tapi justru dengan sikap acuh tak acuhku yang membuat Iqbal mengejarku. Dan akhirnya aku menyerah. Aku menerima cinta Iqbal. Pesona Devan seolah melebur dalam diri Iqbal.
Dan sekarang, setelah 21 tahun, Dia berdiri disana, dengan senyumnya yang masih sangat jelas ku ingat. Tatapannya masih sehangat dulu, Untuk apa? Kenapa dia datang saat aku telah bersusah payah tuk melupakannya... ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar