" Aku mencarimu ke mana - mana, Eva..." ujar Devan lirih. menatap lekat - lekat gadis pujaannya yang sekarang telah berubah menjadi sosok wanita dewasa yang anggun. Sosok yang begitu dirinduinya selama 21 tahun. Sosok yang membuatnya gelisah dan putus asa.
"Kamu makin cantik, " tambahnya getir.
"Untuk apa kamu mencari aku Van? ga usah ngegombal. udah ga mempan buat aku..." Eva tersenyum
"Kamu masih marah ya?"
" Marah? untuk apa? pada siapa?"
" Sama aku... sama Aline..."
" Ga usah sebut nama itu lagi!" potong Eva "Ga ada bedanya, nama itu telah menghilang bersama masa - masa kecil kita"
" Tapi kamu tetap Eva yang sama buat aku. Please dengerin aku dulu, walau kini ga ada bedanya, setidaknya ijinkan aku jujur ke kamu, kali ini aja..."
Eva terdiam
" Dengerin aku dulu ya... setelah ini, kamu mau marah, kamu mau benci aku, terserah. tapi ... please, biar aku jelaskan. walau terlambat, tapi aku ingin kamu tau... ini penting buat aku..."
Dewan menarik nafas berat. Seolah ingin melepaskan sebuah beban berat dari hatinya.
"Semenjak perpisahan SMP kita, dan aku ga pernah ketemu kamu lagi, aku benar - benar merutuki diriku sendiri, Eva. Aku menyesali kebodohanku. Aku memang ga punya keberanian tuk terus terang sama kamu. Fikiran polosku belum sampai kesana. Yang aku tau, aku suka sama kamu. Kamu itu bikin aku penasaran. Dibalik diamnya kamu, aku lihat kamu sosok yang periang, kamu juga pintar. Aku suka kamu karena kamu selalu bisa ngalahin nilai - nilai aku. Kamu bikin aku semangat pergi ke sekolah. Karena aku bisa bersaing dengan kamu. Kamu ga tau, aku diam - diam merhatiin kamu. Aku selalu mencari kesempatan untuk bisa bicara sama kamu. Tapi kamu terlalu acuh. Dan berkutat dengan buku - buku kamu. Kamu sadar ga sih, kalau aku buat kamu marah, itu karena aku mencari alasan supaya kamu mau menatap aku. Aku suka lihat mata kamu yang membelalak saat marah padaku, dan saat kamu menggerutu karena kesal aku ganggu. Aku senang saat melihatmu bisa tertawa lepas, saat bercengkrama dengan teman se gank kamu. Aku tau kamu ga nyaman dengan orang lain selain teman sepermainan kamu, Shinta, Laura, dan Nadhira. Saat perpisahan sekolah, aku ingin sekali bicara sama kamu. aku ingin sekali dekat dengan kamu. Tapi kulihat kamu asik dengan teman - teman kamu. Tapi aku senang melihat kamu bisa ceria dan bebas. Aku senang melihat kamu tertawa diantara deburan ombak, berlarian di pantai dengan kaki telanjang, kamu terlihat bebas mengexpresikan perasaan kamu. Dan aku hanya mampu menatap kamu dari kejauhan. Saat kamu meminta untuk mengambil foto aku dengan kamera kamu, sebenarnya aku ingin berfoto berdua dengan kamu. Tapi aku takut kamu tolak. Setelah kita SMA aku masih mencari khabar tentang kamu dari teman temanku. Dan saat aku tahu kamu sekolah di daerah Jakarta Timur, aku setiap hari nunggu kamu di depan sekolah kamu, atau di pangkalan Trans. Tapi aku ga pernah lihat sosok kamu. Sampai akhirnya aku melihat kamu keluar dari gerbang sekolah. Kamu melihat aku di depan sekolah kamu, dan saat itu aku sedang bersama Aline, jujur perasaanku ga enak banget ke kamu. Aku bisa lihat sorot mata ga senang kamu, tapi kamu berusaha tutupin dengan senyum kamu. dan bodohnya aku, aku membiarkan kamu berlalu dengan kesalah pahaman kamu. Aku selalu menanyakan khabar kamu lewat Aline. Aku selalu sampaikan salamku lewat Aline, tapi kamu ga pernah membalasnya. Jadi ku fikir, kamu memang ga punya perasaan apapun ke aku."
"Kamu nanya kabar aku ke Aline? titip Salam? bukannya kalian udah jadian, saat kita ketemu depan sekolah?" Berondong Eva tiba - tiba. Devan mengangkat alis terkejut.
" Gak, aku ga jadian sama siapa -siapa. aku nungguin kamu. Nunggu jawaban dari kamu..."
" Tapi Aline bilang..."
" Kamu tau Aline pacaran sama teman sekelasnya yang bernama Hardy itu, kan?"
" Iya..."
" Trus, kamu fikir aku di dua in gitu sama Aline?"
" Iya, dan aku mensyukuri itu, karena kamu pantas diperlakukan seperti itu, setelah apa yang kamu lakuin ke aku"
" Aku melakukan apa Eva?"
" Nyakitin aku..."
" Bagaimana aku nyakitin kamu? aku tau perasaan kamu aja gak. Aku fikir aku yang bertepuk sebelah tangan ke kamu"
" Tapi..."
" Apa?? " Devan menarik tangan Eva. dan menggenggamnya erat, Eva meronta mencoba melepaskan genggaman tangan Devan. Tapi Devan menggenggamnya kuat - kuat.
" Aku ga kan lepaskan kamu lagi, gak sekarang..."
Eva mengalah.
"Setelah lulus SMA, aku benar - benar hilang kontak sama Kamu. teman - teman yang ku tanyai, mereka pun ga tau kamu dimana. Aku mencoba melupakan kamu dengan focus dikuliahku dan berbagai kegiatan kampus. Aku berharap suatu saat aku ketemu kamu, aku bisa punya sesuatu yang bisa aku banggakan ke kamu. Tapi tunggu punya tunggu, harapan tinggal harapan, kamu benar - benar hilang ditelan bumi. Berbagai media jejaring sosial telah aku coba tuk cari kamu, hasilnya nihil. Hingga aku melihat postingan kamu di group Alumni SMP kita. Aku benar - benar surprise melihat perubahan kamu. Tapi ternyata kamu sudah ga sendiri lagi.."
Devan menarik nafas, dan menghembuskannya dengan kuat
" Begitu juga kamu..."
" Ya..." jawab Devan lirih
" Kamu terlambat..."
" Ya... "
" 21 tahun lamanya..."
" Siapa yang menghilang?"
" Aku..."
" Kenapa?"
" Patah hati..."
Devan terbahak...
" Patah hati yang bikin kamu menghilang dan bersembunyi di kota kecil ini...?"
" It is worth it. Aku bisa melupakan kamu, rasa sakit hatiku, and i am happy here..."
" Really? Have you forgotten me?"
" Yes!!!"
" Why did you say yes, when i asked you to meet, here?"
" I am not forgiven you, yet..."
" jadi sekarang, udah ma'afin?"
Eva terdiam sesaat
" Aku ga tau Van, memaafkan atau terus membenci kamu, nothing gonna change. Aku sudah dgn jalanku, dan kamu dengan kehidupanmu. Ga ada jalan untuk kita bisa kembali. It is not gonna be the same. I am not who I am 21 years ago. and so are you. we're grown up. lets forget our monkey love..."
" I can't!!" Devan semakin menguatkan genggamannya.
" Now that i found you, i can't let you go again, i don't want to loose you anymore"
" Van... ada banyak perasaan yang harus kita fikirkan. It is not just about you and me"
" So... how do you feel?"
" What?"
" How is your feeling about this, about me? I know you still want me and miss me" Devan mengerling nakal, membuat semburat merah di wajah Eva.
" I don't know, I am happy to see you again, but..."
" Do you Happy to see me?"
" yes!!"
" Right now? "
" Yes..."
" Do you enjoying this moment?"
" Yes..." Eva merasa bersalah
" That's all for me... " Devan melepas genggamannya. dan berdiri. Eva tergagap tak mengerti
" Aku sudah tahu perasaanmu, itu sudah cukup. Aku melepaskan genggamanku, tapi bukan berarti aku melepaskan mu... "
" Maksudmu...?
" Kamu sudah dewasa, dan kamu mengerti maksudku..."
" Tapi, Devan. ini ga mungkin!!! aku ga mungkin menghianati mereka..."
" Dengan bertemu aku sekarang, kamu sudah berkhianat pada mereka sayang..."
" Tapi..."
" Aku ga meminta kamu meninggalkan mereka, ga akan, dan aku juga ga mungkin pergi dari kehidupanku sekarang, tapi yang pasti, apapun dan bagaimanapun caranya, aku ingin bersama kamu..."
" Devan ... "
" Yaa... biar waktu yang menentukan semuanya... kita hanya bisa mengikuti hati kita... " Devan berdiri
" Are you coming with me, princess?" Devan mengulurkan tangannya, Ragu - ragu Eva menyambut tangan Devan. Eva tak menolak saat Devan menarik tangannya dan membenamkan tubuh mungilnya dalam rengkuhan Devan.
Angin bertiup perlahan, menerbangkan dedaunan kering di atas tanah dan mebawanya ke danau, menimbulkan riak kecil saat daun mendarat dipermukaan airnya. Akankah riak itu menjadi gelombang, saat angin yang lebih kencang lagi berhembus???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar