Sabtu, 30 Agustus 2014

Di Balik Senyum Nindya



“ Apa?!” kamu ga bisa pulang lagi? Lembur lagi??” Suara Nindya meninggi, aku berusaha tak mendengarkan percakapan itu dengan focus menyetir. Jalanan mulai merayap hari ini. Maklum, sudah mendekati jam pulang kerja , dan akhir pekan pula.
“Mas... sudah dua minggu berturut – turut loh, mas ga pulang. Jangan perdulikan aku mas, tolong perhatikan perasaan anak – anak. Aku sudah biasa mas, tapi anak – anak. Perjanjian kita dulu gimana mas? Okelah senin sampai jum’at kamu disana, tapi sabtu dan minggu kamu wajib disini mas”
Suara Nindya makin melengking.
“ Oh... Oke!!! Baik kalau seperti itu, aku akan datang kesana dan akan kukatakan pada istri muda mu itu, kalau sampai dia berani melanggar perjanjian, dia akan tahu akibatnya. Sudah bagus, gue ijinkan kalian menikah, mau apa dia? Mau aku laporin lagi ke atasan hah? Mau hidup kere lagi dia...”
Aku berbelok ke restoran cepat saji dan memarkir kendaraanku disana. Aku tak mau keadaan emosi Nindya yang meledak – ledak membuyarkan konsentrasiku menyetir. Aku memberi isyarat pada Nindya untuk menyusulku kedalam restoran, saat dia selesai berbicara di telpon dengan suaminya. Nindya mengangguk.
Aku memilih tempat di sudut restoran dan memandang ke arah mobilku. Dan kulihat Nindya masih berbicara di ponselnya. Dari gerak tubuhnya, aku tahu Nindya masih emosi. Sesaat kemudian dia menghampiriku dengan nafas tersengal dan wajah yang merah padam menahan marah. Ku sodorkan ice coffee kesukaannya. Dia meraihnya dengan kasar dan langsung menyeruputnya layaknya orang yang sedang kehausan. Sebuah burger, dua potong paha ayam, dan sebungkus kentang goreng berpindah dengan cepat ke lambungnya. Aku memperhatikan Nindya dengan senyum.
“ Apa senyum – senyum? “ Semprotnya galak. Aku pura – pura menikmati kentang gorengku. Kutawarkan lagi padanya, sepotong paha ayam yang belum ku sentuh. Dia melotot padaku, aku tergelak hampir tersedak.
“ Seneng lo yee, liat temen susah?? Kesempatan buat loe bikin gue ndud, n loe tambah langsing...”
Aku mengangguk jahil, Nindya melempar tissu ke muka ku. Sesaat dia terdiam, lalu menatapku. Matanya berkaca – kaca, aku mengernyitkan dahi tanpa bicara.
“ Akhirnya loe tau juga kan, masalah gue?” lirihnya
“ Masalah yang mana?” tanyaku pura – pura bingung, tapi sebenarnya bingung beneran sih.
“ Lenata!!! Lo ga usah pura – pura o’on deh!” bentaknya. Aku tersenyum, lebih tepatnya nyengir.
“ Sumpah, gue ga tau. Masalah lo yang mana? Bukannya hidup loe emang penuh masalah? “
“LENATAAA!!!” teriaknya... aku menempelkan telunjukku di bibir, menyuruhnya menurunkan volume suaranya.
“ Kalo loe mau cerita, cerita deh, gue dengerin. Tapi kalo ga, ya ga usah...” ujarku berlagak cuek, padahal penasaran abiss.
“ Ini masalah Rumah Tanggaku Ta. Mas Abid punya istri lagi, dan sudah punya anak satu”
Aku tersedak dan terbatuk – batuk. Nindya memukul punggungku keras sekali, hingga aku meringis
“ Lo jadi kaget kan?”
Aku buru – buru menyeruput orange jusku, memcoba menghalau kentang goreng yang iseng tersangkut di tenggorokanku.
“ Selama ini aku diam, dan memendam semuanya sendiri. Aku berusaha bersikap seolah – olah rumah tanggaku normal, seperti umumnya. Aku menutup mata bahwa mas Abid telah tega berkhianat. Aku melakukan semua demi anak-anak, Ta...”
Lagi – lagi anak – anak yang membuat perempuan rela menderita, bathinku.
“ Dia menikah lagi, saat aku baru saja melahirkan anak kedua kami, bayangkan Ta, bagaimana perasaanku? “
Nindya bercerita bahwa suaminya menikah lagi dengan mantan pacarnya saat kuliah dulu. Yang masih terus mengejar Abid, walau dia tahu bahwa Abid telah beristri dan punya anak. Bahkan sampai rela dijadikan istri kedua oleh Abid. Nindya mengizinkan mereka menikah, karena wanita itu tengah mengandung anak Abid. Dan Nindya tak mau kalau sampai wanita itu mengugurkan kandungannya. Dan Abid berjanji, saat anak itu lahir, dia akan menceraikan istri mudanya. Tapi janji hanyalah Janji. Setiap kali Abid berniat menceraikan wanita itu, dia berusaha untuk bunuh diri. Hingga akhirnya Nindya mengalah dan membuat perjanjian itu. Bahwa dari senin sampai dengan jumat, Abid dengan istri mudanya, tapi setiap akhir pekan harus pulang kerumah. ( karena kondisi pekerjaan suaminya memang diluar kota yang membuatnya tak bisa pulang setiap hari).
“ Tapi sekarang, makin ke sini istri mudanya makin ngelunjak, dan mulai melanggar perjanjian, kurang gimana sih gue kasih pengertian ke perempuan itu hah? Seharusnya gue istri pertama kan yang berhak waktu lebih banyak, tapi gue kasih tuh, biarin gue dan anak – anak Cuma dapet waktu saat akhir pekan, seharusnya dia mikir kan, hah?” Nindya kembali emosi. Aku menepuk – nepuk bahunya mencoba membuatnya lebih tenang.
“ Selama ini, semua orang bilang aku yang jahat, aku perempuan bejad, aku juga manusia kali, punya batas kesabaran...” Nindya mulai melunak, tapi tak urung air matanya mengalir.
Aku terdiam. Memang banyak yang menilai salah tentang Nindya, termasuk aku. Aku tidak pernah tahu gejolak dalam rumah tangga Nindya, karena dia tidak pernah cerita dan tidak pernah menunjukan masalah dalam kesehariannya.
“Selama ini, semua orang simpatik pada Abid. ‘kasihan yah Abid, ga tau kelakuan istrinya, kasihan yah Abid, kurang apa coba? Kaya, Ganteng, Soleh, punya istri koq kaya gitu’ Kenapa kalau laki – laki berselingkuh dianggap wajar, tapi kalau perempuan yang berselingkuh, kurang ajar?? Padahal kita seperti ini karena mereka juga. Aku seperti ini karena dia. Memang caraku salah, tapi apa boleh mereka yang ga tau apa – apa menghakimi aku, melabeli aku, perempuan bejad?”

Lagi – lagi aku terdiam. Walau cara yang ditempuh Nindya salah, tapi perkataannya, menurut aku ada benarnya. Bukan berarti aku membenarkan tindakan dia, hanya saja menurut aku, Nindya tak sepenuhnya salah. Hanya jalan yang dia pilih salah, karena terbutakan oleh emosi dan dendam. Tapi apapun itu masalah dalam hidup Nindya, aku merasa salut padanya. Jarang ada wanita yang merelakan suaminya untuk menikahi selingkuhannya, dan rela membagi cinta dan perhatian dari suaminya. Walau dalam hal ini, Nindya mencari jalan pintas dengan mencari cinta yang salah. Dia membalas perlakuan suaminya dengan berbuat hal yang sama. Satu hal yang ia katakan padaku, bahwa ia bertahan demi anak – anaknya, Iya kah???

Apakah benar bertahan demi anak – anak, atau sebagai bentuk ketidak berdayaan kaumku atas penindasan yang dilakukan oleh kaum adam? Umumnya wanita tidak merasa percaya diri, dan khawatir bahwa anak – anaknya tidak dapat tercukupi secara materi, dan kekhawatiran wanita akan cap buruk sebagai wanita yang bercerai. Karena umumnya dalam kultur masyarakat kita, wanita yang bercerai atau disebut janda, selalu punya sigma buruk. Entahlah... Aku tidak pernah memandang janda itu sebagai label yang buruk, toh tidak semua seperti itu, hanya beberapa gelintir saja. Tapi ya itu tadi... masyarakat kita cenderung menyamaratakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar