“ Apa?!” kamu ga bisa pulang
lagi? Lembur lagi??” Suara Nindya meninggi, aku berusaha tak mendengarkan
percakapan itu dengan focus menyetir. Jalanan mulai merayap hari ini. Maklum,
sudah mendekati jam pulang kerja , dan akhir pekan pula.
“Mas... sudah dua minggu berturut
– turut loh, mas ga pulang. Jangan perdulikan aku mas, tolong perhatikan
perasaan anak – anak. Aku sudah biasa mas, tapi anak – anak. Perjanjian kita
dulu gimana mas? Okelah senin sampai jum’at kamu disana, tapi sabtu dan minggu
kamu wajib disini mas”
Suara Nindya makin melengking.
Aku berbelok ke restoran cepat
saji dan memarkir kendaraanku disana. Aku tak mau keadaan emosi Nindya yang
meledak – ledak membuyarkan konsentrasiku menyetir. Aku memberi isyarat pada
Nindya untuk menyusulku kedalam restoran, saat dia selesai berbicara di telpon
dengan suaminya. Nindya mengangguk.
Aku memilih tempat di sudut
restoran dan memandang ke arah mobilku. Dan kulihat Nindya masih berbicara di
ponselnya. Dari gerak tubuhnya, aku tahu Nindya masih emosi. Sesaat kemudian
dia menghampiriku dengan nafas tersengal dan wajah yang merah padam menahan
marah. Ku sodorkan ice coffee kesukaannya. Dia meraihnya dengan kasar dan
langsung menyeruputnya layaknya orang yang sedang kehausan. Sebuah burger, dua
potong paha ayam, dan sebungkus kentang goreng berpindah dengan cepat ke
lambungnya. Aku memperhatikan Nindya dengan senyum.
“ Apa senyum – senyum? “
Semprotnya galak. Aku pura – pura menikmati kentang gorengku. Kutawarkan lagi
padanya, sepotong paha ayam yang belum ku sentuh. Dia melotot padaku, aku
tergelak hampir tersedak.
“ Seneng lo yee, liat temen
susah?? Kesempatan buat loe bikin gue ndud, n loe tambah langsing...”
Aku mengangguk jahil, Nindya
melempar tissu ke muka ku. Sesaat dia terdiam, lalu menatapku. Matanya berkaca
– kaca, aku mengernyitkan dahi tanpa bicara.
“ Akhirnya loe tau juga kan,
masalah gue?” lirihnya
“ Masalah yang mana?” tanyaku
pura – pura bingung, tapi sebenarnya bingung beneran sih.
“ Lenata!!! Lo ga usah pura –
pura o’on deh!” bentaknya. Aku tersenyum, lebih tepatnya nyengir.
“ Sumpah, gue ga tau. Masalah lo
yang mana? Bukannya hidup loe emang penuh masalah? “
“LENATAAA!!!” teriaknya... aku
menempelkan telunjukku di bibir, menyuruhnya menurunkan volume suaranya.
“ Kalo loe mau cerita, cerita
deh, gue dengerin. Tapi kalo ga, ya ga usah...” ujarku berlagak cuek, padahal
penasaran abiss.
“ Ini masalah Rumah Tanggaku Ta.
Mas Abid punya istri lagi, dan sudah punya anak satu”
Aku tersedak dan terbatuk –
batuk. Nindya memukul punggungku keras sekali, hingga aku meringis
“ Lo jadi kaget kan?”
Aku buru – buru menyeruput orange
jusku, memcoba menghalau kentang goreng yang iseng tersangkut di
tenggorokanku.
“ Selama ini aku diam, dan memendam
semuanya sendiri. Aku berusaha bersikap seolah – olah rumah tanggaku normal,
seperti umumnya. Aku menutup mata bahwa mas Abid telah tega berkhianat. Aku
melakukan semua demi anak-anak, Ta...”
Lagi – lagi anak – anak yang
membuat perempuan rela menderita, bathinku.
“ Dia menikah lagi, saat aku baru
saja melahirkan anak kedua kami, bayangkan Ta, bagaimana perasaanku? “
Nindya bercerita bahwa suaminya
menikah lagi dengan mantan pacarnya saat kuliah dulu. Yang masih terus mengejar
Abid, walau dia tahu bahwa Abid telah beristri dan punya anak. Bahkan sampai
rela dijadikan istri kedua oleh Abid. Nindya mengizinkan mereka menikah, karena
wanita itu tengah mengandung anak Abid. Dan Nindya tak mau kalau sampai wanita
itu mengugurkan kandungannya. Dan Abid berjanji, saat anak itu lahir, dia akan
menceraikan istri mudanya. Tapi janji hanyalah Janji. Setiap kali Abid berniat
menceraikan wanita itu, dia berusaha untuk bunuh diri. Hingga akhirnya Nindya
mengalah dan membuat perjanjian itu. Bahwa dari senin sampai dengan jumat, Abid
dengan istri mudanya, tapi setiap akhir pekan harus pulang kerumah. ( karena
kondisi pekerjaan suaminya memang diluar kota yang membuatnya tak bisa pulang
setiap hari).
“ Tapi sekarang, makin ke sini
istri mudanya makin ngelunjak, dan mulai melanggar perjanjian, kurang gimana
sih gue kasih pengertian ke perempuan itu hah? Seharusnya gue istri pertama kan
yang berhak waktu lebih banyak, tapi gue kasih tuh, biarin gue dan anak – anak
Cuma dapet waktu saat akhir pekan, seharusnya dia mikir kan, hah?” Nindya
kembali emosi. Aku menepuk – nepuk bahunya mencoba membuatnya lebih tenang.
“ Selama ini, semua orang bilang
aku yang jahat, aku perempuan bejad, aku juga manusia kali, punya batas
kesabaran...” Nindya mulai melunak, tapi tak urung air matanya mengalir.
Aku terdiam. Memang banyak yang
menilai salah tentang Nindya, termasuk aku. Aku tidak pernah tahu gejolak dalam
rumah tangga Nindya, karena dia tidak pernah cerita dan tidak pernah menunjukan
masalah dalam kesehariannya.
“Selama ini, semua orang simpatik
pada Abid. ‘kasihan yah Abid, ga tau kelakuan istrinya, kasihan yah Abid, kurang
apa coba? Kaya, Ganteng, Soleh, punya istri koq kaya gitu’ Kenapa kalau
laki – laki berselingkuh dianggap wajar, tapi kalau perempuan yang
berselingkuh, kurang ajar?? Padahal kita seperti ini karena mereka juga. Aku
seperti ini karena dia. Memang caraku salah, tapi apa boleh mereka yang ga tau
apa – apa menghakimi aku, melabeli aku, perempuan bejad?”
Lagi – lagi aku terdiam. Walau
cara yang ditempuh Nindya salah, tapi perkataannya, menurut aku ada benarnya.
Bukan berarti aku membenarkan tindakan dia, hanya saja menurut aku, Nindya tak
sepenuhnya salah. Hanya jalan yang dia pilih salah, karena terbutakan oleh
emosi dan dendam. Tapi apapun itu masalah dalam hidup Nindya, aku merasa salut
padanya. Jarang ada wanita yang merelakan suaminya untuk menikahi
selingkuhannya, dan rela membagi cinta dan perhatian dari suaminya. Walau dalam
hal ini, Nindya mencari jalan pintas dengan mencari cinta yang salah. Dia
membalas perlakuan suaminya dengan berbuat hal yang sama. Satu hal yang ia
katakan padaku, bahwa ia bertahan demi anak – anaknya, Iya kah???
Apakah benar bertahan demi anak –
anak, atau sebagai bentuk ketidak berdayaan kaumku atas penindasan yang
dilakukan oleh kaum adam? Umumnya wanita tidak merasa percaya diri, dan
khawatir bahwa anak – anaknya tidak dapat tercukupi secara materi, dan
kekhawatiran wanita akan cap buruk sebagai wanita yang bercerai. Karena umumnya
dalam kultur masyarakat kita, wanita yang bercerai atau disebut janda, selalu
punya sigma buruk. Entahlah... Aku tidak pernah memandang janda itu sebagai
label yang buruk, toh tidak semua seperti itu, hanya beberapa gelintir saja.
Tapi ya itu tadi... masyarakat kita cenderung menyamaratakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar