Hari baru menunjukkan pukul 03 siang, tapi Danish begitu gelisah ditempat duduknya. Ia ingin segera pulang ke rumah. Besok sudah mulai puasa dan ia belum mempunyai apa - apa untuk persediaan sahur esok hari. Lagi - lagi Danish melirik jam tangannya. Waktu dirasanya berjalan begitu lambat. Ia ingat percakapannya dengan Laura anak pertamanya yang baru berusia 6 tahun.
" Bunda kata bu guru, 2 hari lagi puasa?" tanyanya dengan polos
" Iya sayang..."
" Rara tahun ini mau puasa sampai maghrib ya bunda..."
Danish tertegun, tahun kemarin Rara panggilan Laura memang hanya berpuasa setengah hari.
" Kata bu guru, biar pahala nya full, ga cuma setengah, iya bunda?"
Danish mengelus putri nya dengan haru
" Betul sayang... tapi ga cuma puasa aja loh supaya pahalanya full..."
" He he he... iya, sholat 5 waktu dan mengaji juga, ya kan bun..."
" Pinter... anak bunda..."
" Nanti bunda masakin makanan kesukaan Rara dan Ayah ya..."
Tepukan halus dibahunya mebuyarkan lamunan Danish, Shania rekan kerja Danish menatapnya heran.
" Gelisah banget sih kamu?" tanyanya
" Iya... besok sudah puasa dan aku belum belanja untuk keperluan sahur esok pagi"
" owh... " Shania manggut manggut
" Aku mau ke supermarket sore ini, bareng yuk"
Shania tertawa, Danish mengernyitkan kening
" Untuk apa aku belanja, dirumah ga ada orang"
" Loh, suami dan anak anakmu gimana?"
" Mereka ke rumah mama ku"
Shania bercerita bahwa setiap bulan puasa mereka akan 'mengungsi' ke rumah mamanya. Alasannya karena Shania tidak pernah memasak. Dan sulit bangun pagi. Shania tidak punya asisten rumah tangga. Anak - anaknya di rumah terbiasa hidup mandiri. Lisa sudah berumur 12 tahun dan Keira 8 tahun. Mereka tebiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri seperti Ardhi ayah mereka yang bekerja di luar kota dan hanya pulang saat akhir pekan.
"Tadi pagi Keira bilang sama aku, 'ma aku mau ke rumah oma saja, aku mau puasa, kalau aku disini nanti aku ga bisa puasa. Mama pasti ga bakal bangunin aku, trus ga ada makanan buat sahur. Aku kan mau puasa dan taraweh supaya pahalanya buat mama'"
Shania terkekeh tanpa beban.
" Ardhi juga begitu, dia akan pulang ke rumah mama dan pesan makanan kesukaannya ke mama, bukan ke istrinya, habis aku ga bisa masak. he he he..."
Danish tercenung.
" Habis gimana, aku kan sibuk, jadi ga sempet deh ngerjain pekerjaan kaya gitu..."
" Kenapa ga cari ART aja supaya pekerjaan mu ringan?"
" Aku ga suka ada orang lain di rumah. malah khawatir kalau ada orang lain, kita kan ga tau loh ART jaman sekarang, lagi juga sekarang kan udah simple, pakaian tinggal ku laundry aja, rumah makan banyak, kalo cuma ngepel atau bersih bersih, anak - anak udah bisa. sepele lah..." katanya dengan gayanya yang khas.
Danish tak bisa berkata - kata, inikah potret wanita jaman sekarang? Terlalu sibuk hingga tak ada waktu untuk menjalankan kodratnya sebagi istri dan seorang ibu?
Pembicaraan mereka terhenti ketika Bu Amalia manager mereka mendekat.
" Semuanya, karena esok hari kita sudah mulai berpuasa, maka hari ini saya kasih kalian pulang lebih awal dari biasanya.Sekarang pulanglah, dan selamat menjalankan ibadah puasa esok."
Danish menarik nafas lega. Bu Amalia manager yang sekarang memang lebih pengertian.
Dengan ringan dilangkahkan kakinya menuju supermarket untuk membeli keperluan sahur dan berbuka besok. Terbayang wajah riang Rara saat ia menghidangkan makanan kesukaanya. Aahh... Danish ingin cepat - cepat sampai dirumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar