Selasa, 09 Agustus 2016

It's All About Blink - Blink

Hari itu, aku melarikan diri (lagi) dari kantor. Aku tengah asik melihat_lihat tas KW branded ternama di salah satu counter tas yg tengah mengelar discount. Memang siih... pembajakan itu suatu kejahatan, tapi mau gimana lagi. Aku hanya mampu membeli yang KW, itupun harganya masih terasa mencekik leherku. Sementara harga aslinya, lebih mahal dari mobil LCGC ku :'(

Aku terkejut saat seseorang menepuk pundakku. aku tidak langsung menoleh, setelah beristighfar aku membaca beberapa doa, khawatir terhipnotis.

Walau aku sadar, apa sih yg aku punya dalam tas ku, selain beberapa lembar uang warna merah dan bermacam_macam kartu. Bukan kartu kredit lho... aku cuma punya 1 kartu kredit dan kartu ATM. Yang banyak itu kartu member dari beberapa mall dan mini market (hahaha). Tapi kalau di ambil kan sayang, pointku sudah banyak. aku sedang ngincer panci presto hadiah berdasarkan point disalah satu mini market. Ketika aku menoleh, seraut wajah cantik tengah tersenyum kaku kepadaku, aku mengernyit mencoba mengingat_ngingat wajah yg tengah tersenyum tepatnya menyeringai di hadapanku. Aku mundur selangkah wajahnya mirip artis Korea yang entah siapa namanya karena mayoritas wajah mereka mirip. Mungkin artis korea itu bersumber dari satu gen. hingga wajah mereka mirip semua.

" Ta... apa khabar? masih beli tas KW lu?"
aku terhenyak. Yang paham aku selalu pakai tas KW adalah Diana. ex rekan kerjaku yang tetiba resign tanpa khabar berita. Aku mahfun sih kalau dia resign dari kerja. Wong tanpa bekerja saja gaji suaminya lebih dari cukup. Dia bekerjapun hanya untuk membunuh waktu.
" Hai... Di, baeek... lu makin beda ja, mpe  pangling gw"
Lagi lagi Diana menyeringai. Aku bergidik. kenapa sekarang dia menyerigai, padahal dulu senyumnya paling lebar dan sumringah. Kenapa sekarang tampak kaku ?

" Wooii... bengong mulu. lu pangling khan liat gw sekarang, makin cantik khan?" dia memiringkan wajahnya kekana ke kiri, seperti foto foto di kantor polisi yang tampak wajah dengan serentetan nomer serial.
*lo pikir die lagi poto kriminal Ta? whooii... Earth calling Lenata* aku tersadar oleh suara_suara di kepalaku yang sering muncul tiba_tiba. kadang aku berpikir ada sesuatu yg mengikutiku dan selalu berbisik tak pada tempatnya.
*miss halu lagi kumat*

" Ho'oh... makin cantik. keq artis dangdut yang baru oplas 1M ituh..."
Diana tergelak. aku makin membelalak, suara tawanya masih sama, tapi kenapa bibirnya seperti joker yang tengah tertawa?

Diana menarikku ke resto favorite kami saat kami sering hang out dulu.
" Lu mau makan apa Ta? pesan aja. gw yang bayar. ga perlu BS keq dulu, atau patungan lagi. sok... mau yg paling mahal sekalipun. mau bungkus pun silahkan... "
" Ok..." segera ku pesan menu yang paling mahal dan semua yang kusuka. toh kalau ga habis bisa kubungkus. Kapan lagi ada yang traktir sepuasnya.
*astaga Lenata....*
Aku menepis suara_suara yang muncul dikepalaku.

" Eh... lu cerita dong. kemana aja selama ini? udah keq artis penomenal yang ntu aja luh. menghilang tau_tau nongol udah punya anak, trus muka lu diapain? keqnya mau ketawa aja susah bener lu..."
aku memperhatikan wajah Diana yang super licin seperti baju baru di steam, mengkilap seperti mobil baru di wax. Tak ada kerutan sama sekali.

" Lu inget, Komunitas mobil tajir yang gw ikutin?"
aku mengangguk_angguk.
" Lu masih sama si pengusaha resto itu?"
Diana menggeleng.
" Ngapain... pelit merkiti gituh..."
" Lhaa... kan lu cinta..."
Diana terkekeh...
" Hari gini makan cinta, kenyang??"
Aku mengernyitkan kening.
" Gw sekarang sama si pengusaha klinik kecantikan, koleksinya aja rubicon cyiin. apartemen di mana_mana. Lumayan lhaa... setahun gw sama dia, gw dah punya 1 ruko dan sebuah butik di kota J, gw ga perlu cape_cape kerja, tiap bulan uang saku gw 50rb" *juta*

Diana menutup mulutku yang ternganga dengan tissu tepat ketika seekor lalat nyaris terhisap ke mulutku.
" Dan wajah ini... gw ke Korea beberapa bulan lalu... capek ahh suntik mulu. sakit. mending sekalian aja. mumpung dibayarin " Diana mengerling seraya terkekeh. ooohh... now i get it. kenapa wajahnya jadi mirip_mirip artis Korea.

" Trus... sama suami lo gimana?"
" Masih lhaaa... lo pikir gw bakal lepasin laki gw gitu aja? ga lhaa... dia aset gw. anak_anak gw mau makan apa kalo bapaknya gw lepasin..."
" Lha... kan ada mr. salon kecantikan..."
" Gilingan loh yeee.... itu mah buat gw lhaa... anak_anak gw kan ada bapaknya. Laki gw mana mampu biayain gw keq gini, ya gw cari sendiri lhaa..."
" Gw capek hidup susah. gw ga mau tua gw hidup menderita. harus tetep cari duit sendiri. setidaknya dengan sebuah ruko dan butik yang gw kelola, gw punya investasi buat hari tua gw, saat ini laki gw ga bisa diandelin, ga bisa diharapkan"

Aku menatap pesanan mahalku. Tiba_tiba saja aku kehilangan selera makanku.
" Jadi... itu yang bikin lu resign mendadak?"
Diana tertawa. Temanku yang satu ini tak pernah berubah. Entah apa yang dia cari.

" Lu bahagia Di?"
Diana mengangguk mantap.
" Apa khabar anak_anak? Farah dan Fadly?"
" Farah tahun ini masuk SMA, setelah tamat rencananya mau menyusul Fadly kuliah di LN"
" Suami lu?"
Sekilas ku lihat mendung di wajahnya.
" Seperti biasa. sejak Fadly kuliah, dia semakin jarang pulang. Pulang ketika Farah sudah menghiba_hiba meminta papanya pulang..."
" Kalo Farah nyusul Fadly... lo makin sendiri dong Di?"
Diana menghela napas, lalu tersenyum getir.
" Udah aaahh... ngapain nanyain gw mulu. sekarang gantian cerita tentang lu. gw pikir KW branded lu udah ilang, masih aja make barang KW lu. malu_maluin..."
aku tertawa pahit.

" Heiii... lu masih setia sama si munce?" Diana menatap mobil kesayanganku dengan miris.
" Kenapa? itu tandanya gw type yg setia." aku mengelus_elus mobil kesayanganku layaknya permata langka di dunia.
" Kere lu ga abis_abis, cyiinn..."
" Mau gimana lagi... gw ga punya bakat jadi ani_ani..." aku mejulurkan lidah.
" Parah luh... udah yaa... bulan depan, gw mau ke holand, lu mau gw bawain oleh_oleh apa?"
" Yakin lu mau ke holand? di sana gada tumis oncom lhoo... lu ga bakalan bisa makan..."
Diana mengacungkan tinjunya.
"Yawda... nanti gw kabarin ya cyin... btw... style lu makin parah. kagak cape lu nyuci baju yg dipake ngepel lantai..."
Aku menatap ujung gamisku yg hampir menyentuh lantai.
" Enak aja... mana ngepel lantai, gw pake high heels niih... jd kaga kena lantai" aku memamerkan sepatu 10cm ku.
Diana mencibir, seraya melambaikan tangan dan berlalu dengan mobil sport mewah keluaran terbaru.

Aku menghela napas. Entah kenapa aku merasa sedih karena tak bisa mengatakan yang benar kepada temanku. mengatakan bahwa apa yang dia lakukan adalah salah. Sejak dulu, aku tidak pernah bisa mengubah pendiriannya.

" Selama ini gw nyari cinta Ta, karena itu yang gw butuhin, tapi... lu pikir sendiri deh, dosanya sama aja khan?" Terngiang jawaban Diana membuatku hampir tersedak, hingga dia harus menepuk_nepuk pundakku dengan keras.

Sebenarnya jika saja Diana mau hidup lebih bersahaja, dia tidak perlu melakukan semua ini. Gaji suaminya sebagai kepala Cabang sebuah perusahaan internasional lebih dari cukup untuk menghidupi dia dan anak_anaknya. sayangnya... dia salah memilih teman. Terjerumus di komunitas dengan gaya hidup jetset dan sosialita. Dimana uang bisa membeli segalanya. Uang yang menjadi raja. Dimana kecantikan dan penampilan menjadi tolak ukur sebuah kesuksesan dan kelas sosial. uang bisa memanipulasi usia. Wajah Diana yang sudah kepala 4, disulap menjadi kepala 2, hanya demi apa? simpanan seorang pengusaha muda yang kaya raya. Aku tak habis pikir, demikian instankah untuk meraih kekayaan, hingga segala cara ditempuh, baik medis maupun magis? *Menyekutukan Tuhan, dengan perantara doa_doa dukun ilmu hitam*

Entahlah... aku tidak bisa menilai orang lain, pun aku tak pantas menuduh ataupun menyalahkan siapapun dalam hal ini.
setiap manusia punya jalan ceritanya sendiri. seperti kata bijak...

"Penghianatan terjadi bukan karena ada kesempatan, tetapi karena sebuah pilihan"

Jika kesempatan untuk berbuat khianat itu terbuka lebar, tetapi jika kita bisa memilih untuk menjadi pribadi yang setia, maka pilihan untuk setia adalah yang sebaik_baiknya pilihan.

Aku menatap bungkusan makanan yang tergeletak di sebelahku. Makanan mahal ini entah mengapa menjadi hambar, atau aku terlalu sayang untuk memakannya? Ku lihat bapak penyapu jalanan yang masih bekerja dalam rinai hujan. Terlihat semburat cahaya bahagia terpancar dari wajahnya yang terbakar matahari dan mulai dilukis oleh guratan usia ketika menerima bungkusan dariku. Berulang_ulang ucapan terima kasih terlontar dari bibirnya, seraya mencoba mencium tanganku yang dengan halus segera ku tarik.
Aku tak pantas mendapatkan ciuman penuh hormat dari laki_laki mulia yang berjuang untuk keluarganya diusianya yang mulai senja.
Aku hanya berdoa... semoga pemberianku pada bapak penyapu jalanan atas nama sahabatku, mendapat balasan dari Allah dengan secercah cahaya di hati sahabatku, agar dia tidk tersesat lebih jauh. Semoga kelak Allah membimbingnya kembali pada jalan yang seharusnya.
semoga... ya semoga...

Dan aku melaju membelah jalanan senja yang diselimuti gerimis, ditemani suara merdu melly guslaw.

*slalu ku bilaang, aku tak sebaik kau fikir, tak pernah ku nantiiikaan, kaamuuuu....* (music)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar