Jumat, 26 Februari 2016

Lo Lapar Kalau Kesal

Diana bersungut-sungut di hadapanku. Wajah 25 jutanya tampak merah padam. Direbutnya teh botol dingin yang tengah kunikmati dan diseruputnya hingga tandas. Aku mengernyitkan kening. 

" Rese banget sih laki gw, gw datang jauh-jauh kaga ada sambutan sama sekali. Liat aja ya... ini bakalan jadi bumerang buat hubungan gw dan dia ke depannya" 

Cerocosnya seraya mencomot tahu isi yang tinggal satu satunya dipiringku dan disuapkannya dgn lahap. Aku menelan ludah. 'Dia lapar kalo lagi kesal' bathinku menahan tawa. 

Hari ini dia mengunjungi suaminya di kantor. Suaminya merupakan pimpinan salah satu pabrik terkenal di salah satu kawasan industri terbesar di Jakarta dan merupakan anak perusahaan asal Dubai. Di mana seluruh karyawan wanitanya mengenakan hijab. Dan yang aku tahu, suami Diana sangat menginginkan dia berhijab. Well... sebenarnya Diana sudah mengenakan hijab, tapi dia masih senang buka tutup. Apalagi sejak punya wajah 25 juta dia enggan mengenakan hijab lagi. Wajah Diana sebenarnya cantik, tapi dengan 'permakan' seharga 25 juta semakin memancarkan kecantikannya. 
" Laki gw kan punya jabatan di kantor. Masa sih gw datang boro-boro dikenalin ke seluruh anak buahnya, diajak masuk ke kantornya aja ga. Dia cuma nemuin gw di parkiran pabriknya. Gila ga?! Segala nanya gw pake jilbab apa ga. Apa maksudnya coba? Malu dia punya bini keq gw? Hah? Makanya jangan salahin gw kalo gw macem macem, nah laki gw aja keq gini perlakuannya ke gw..."

Aku memesan 2 teh botol dingin lagi dan seporsi mie ayam plus 5 buah tahu isi. Saat emosi seperti ini, Diana suka ga bisa mengontrol makan dan rasa isengku sedang kumat. 

"Di... permintaan laki lo itu kan permintaan yang teramat standar. Dia cuma minta lo pake jilbab. Apa susahnya sih? Jelaslah dia ga bolehin lo turun dari mobil, nah lo datang ke kantor laki lo, pake pakean sexy keq gitu. Sementara anak buahnya yg cewe berhijab semua. Dan lagi itu perusahaan arab Di..." aku mencoba menenangkan, walau aku ga tau korelasinya antara perusahaan arab dan jilbab, emang ada gitu aturan yg ga memperbolehkan seseorang yang ga berjilbab datang ke kantornya... entahlah. 

"Ya tapi kan dia ga ngasih tau gw kalo datang harus pake jilbab..."
Pesanan mie ayam datang. Dan Diana langsung menyambarnya. Aku tersenyum. 

"Eh lo udah gede kali, kalo lo ga mau gw bilang 'tua' umur lo udah berapa? Di atas 40 cyiin... walo lo ngaku sama gw masih umur 35, oomaigooottt... lo ga harus diajarin lagi kali, klo mau ketemu laki lo dikantornya harus pake apa. Niat laki lo bae, ga mau orang lain menikmati kecantikan lo, walau lo sendiri senang kalo kecantikan lo dinikmati banyak orang..." sindirku. Diana menyeruput teh botolnya dan menyuapkan satu tahu isi utuh hingga pipinya menggembung bak hamster lapar.
 
"Apa susahnya sih lo bikin laki lo senang dgn lo datang pake jilbab. Pahala tau... "
 
" Aah bilang aja dia malu ngenalin gw. Dan pasti di kantornya dia ada cewenya. Jadi ga mau ngenalin gw ke anak buahnya" 

" Yaa jelas lah laki lo malu. Masa bininya datang dengan pakean sexy gitu. Mana orang percaya kalo lo bininya, pasti sangkaan orang lo pacarnya laah atau bini simpenannya lah. Karena ga mungkin orang seusia laki lo dengan jabatan yang sudah mapan, bininya masih berpakaian sexy keq gitu..."
 
" Maksud lo gw tua gituh?? Gue kan ga tua tua amat. Cuma beda setaun ama lo"
" Beda setaon ama gw, di KTP yang mana cyiin?? Yang asli apa editan?" 

Aku tertawa geli. Temanku yang satu ini saking ga mau terlihat tua sampai sampai KTP pun diedit. Kelahirannya jadi tahun 76. Setahun lebih tua di atasku. Maklum diantara kami, dialah yang paling 'Dewasa' umurnya, sementara teman teman kami kelahiran tahun 80 keatas dan dia tidak bisa menerima kenyataan itu. Itulah sebabnya dia mati matian mempermak wajahnya dengan berbagai perawatan kecantikan yang menyakitkan supaya terlihat lebih muda. Dan selalu beralasan bahwa KTP yang selama ini salah cetak. Bahwa dia tidak setua itu bahwa dia seumur denganku... dia lupa bahwa adiknya lah yang seumur denganku. Dan aku sering membahasnya dengan adiknya, kalau dia seumuran denganku mungkin dia dan adiknya kembar yang lahir beberapa bulan kemudian. Aku dan adiknya akan tertawa terpingkal pingkal membicarakan kekonyolan kakanya. Dan sang adik akan selalu berkata : " udahlah Taa... nyenengin kaka gw jg pahala tauu"
Dan akhirnya kami akan tertawa sampai perut sakit dan keluar airmata. 

" Di KTP kan emg gw dibikin dewasa, supaya gw bisa nikah sama dia..." sembur Diana. Nah kaan... penjelasan absurd lagi.
" Gw jengkel aja. Kenapa dia perlakuin gw keq gitu, gw kan bininya. Jgn salahin gw deh kalo gw cari yg lebih ngehargai gw diluaran..."
" Siapa...?" Godaku
" Ayang akuu..." Diana menjawab malu-malu dengan mata berbinar. Walau aku tau expresi itu bukan expresi malu-malu, expresi yang dibuat-buat. Expresi kebanggaan yg dia tunjukan bahwa dengan usia di atas 40 tahun masih ada laki-laki muda dan mapan berusia 33 tahun yang menurutnya jatuh cinta padanya. Laki-laki pemilik salah satu restoran terkenal di Indonesia. Dan yang aku tahu expresi itu sama ketika dia menyebut 2 abege *aku menyebut pria-pria kelahiran 80 ke atas demikian* lain. Suatu hal yang masih jadi tanda tanya buatku, kenapa pria-pria muda itu bisa jatuh cinta pada Diana. Kalau soal cantik aku rasa banyak wanita-wanita muda yg jauh lebih cantik. Kadang aku suka menggoda Diana dengan sebutan TeGe, karena dia digandrungi pria-pria muda. Dan dia akan melemparkan apapun yg ada di dekatnya ke arahku. 

" Emang klo lo datang ke kantor dia, lo dikenalin ke anak buahnya? Sebagai apa?"
" Ya ga mungkin lah!! Lo gila. Ga mungkin gw dikenalin, bisa kacau semuanya..."
" Trus itu yang lo bilang ngehargain? Di mananya?"
" Yang pasti... gw senang lah. Jadi gw ga sedih-sedih amat kalo laki gw perlakuin gw keq tadi. Bukan salah gw kan? Salah laki gw kenapa ga perhatian dan ga ngehargain gw" 

Aku menghela napas. Entahlah... aku tak pandai mencerna situasi. Dan aku tak pandai menilai orang, Mungkin Suami Diana salah, mugkin juga Diana yang salah, atau mungkin keadaan yang harus disalahkan. Sebanyak apapun dalil yang aku sampaikan, tak kan pernah melunakkan kekerasan kepala Diana. Dia punya kamus pembenaran bagi dirinya sendiri. Dia punya kacamata sendiri dalam arti kata benar dan salah. 

" Jadi ga seharusnya kan lo marah dengan laki lo? Kan udah punya penghibur. Abegeh abegeh itu..."
" Iya sih... ngapain juga gw kesel. Mending gw ketemu sama ayang-ayang gw aja deh..."
" Jadi udah ga perlu kesel lagi kan?"
" Gak..."
" Udah happy kan? "
" Iya lah..."
" Karena siapa?"
" Ayang-ayang gw lah..."
" Trus kenapa lo makan banyak ?" 

Diana menatap mangkok mie ayam yang kosong, piring yang tersisa 1 buah tahu isi dan 3 botol beling kosong, aku menyambar dompet dan kunci kontak dengan cepat, tersenyum ke arah pemilik kantin yang sudah paham kelakuanku, lalu melesat secepat kilat ke parkiran diiringi teriakan histeris Diana.
" Lenataaaaaaaaaaa...."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar