" Aku sakit hati " ujarnya di ujung telepon dengan suara tercekat menahan tangis.
" Kenapa ?"
" Aku menceritakan pada Rita, bahwa bu Alma mengatakan dia rese... "
" Kenapa bu Alma bilang seperti itu?"
" Ya... kata bu Alma, dia tau dari pa Erick, kalo Rita memprofokasi orang orang warehouse untuk mogok menuntut kenaikan upah"
" Apa bener Rita seperti itu?"
" Ga juga, mereka yang menandatangani petisi kemarin sore, lalu diserahkan ke Rita "
" Trus... "
" Aku cerita ke Rita, kalo bu Alma tadi pagi bilang ke aku seperti itu, eh Rita malah langsung telpon dan melabrak bu Alma, jelas bu Alma marah pdku, karena hanya aku yang diajak bicara masalah ini, aku dibilang pengadu domba"
" Kenapa kamu ceritain ke Rita?"
" Aku cuma penasaran kenapa bu Alma sampai bisa blg seperti itu, pasti ada yang bilang ke dia kalo ini akal - akalan Rita "
" Trus ... "
" Ya aku benci aja sama Rita, buat apa dia labrak bu Alma, aku kan hanya menceritakan apa yang terjadi di sini, mulai sekarang aku ga akan cerita apa - apa lagi kalo ada sesuatu yg terjadi disini "
Aku terdiam entah harus berkata apa. Aku tidak
menyalahkan Alma, atau pun Rita. Aku tau memang seperti itulah sifat Dea, dia selalu menyampaikan omongan orang lain tanpa dia saring terlebih dahulu, entah itu omongan baik atau buruk. Dan parahnya, kadang itu bisa membuat orang - orang yang terlibat menjadi saling bermusuhan. Dan yang paling aku tak habis fikir, dia akan melenggang seakan tanpa dosa. Dia seolah membenarkan perbuatannya. Dia seperti senang apabila perkataan dia menjadi huru hara. Mungkin saat itu hanya terjadi dikalangan rekan - ekan seprofesi kami. Tapi saat ini sudah menyangkut taraf manager. Dan yang dia adukan adalah orang - orang di level atas. Dan bukannya dia menyadari kekeliruannya, dia malah menyalahkan orang - orang yang dengan jelas - jelas dia adu. Entah dengan maksud apa. Aku pun bukannya tidak pernah menjadi korban dia, aku pun sering menjadi korban ketajaman lidah dia. Apapun yg aku katakan akan sampai ke orang yang aku maksud. Tak jarang dia mengadukan curhatanku ketika ada masalah dengan si A, dan nanti omonganku akan sampai pada si A, lengkap dari A sampai Z. Aku bukannya tidak merasa sakit hati, aku merasa dikhianati, tapi aku selalu diam, karena aku ga mau ribut. Aku menghormati pertemanan kami, aku merasa aku harus lebih waras ketimbang dia, jadi aku diam saja. Toh aku percaya KARMA itu ada. Tinggal bagaimana dia menyikapi semua ini. akankah dia sadar atau semakin menjadi - jadi. Tapi yang jelas, dia tidak akan pernah mau mengakui kesalahannya. Dia akan melemparkan kesalahan yang dia perbuat ke orang lain.
menyalahkan Alma, atau pun Rita. Aku tau memang seperti itulah sifat Dea, dia selalu menyampaikan omongan orang lain tanpa dia saring terlebih dahulu, entah itu omongan baik atau buruk. Dan parahnya, kadang itu bisa membuat orang - orang yang terlibat menjadi saling bermusuhan. Dan yang paling aku tak habis fikir, dia akan melenggang seakan tanpa dosa. Dia seolah membenarkan perbuatannya. Dia seperti senang apabila perkataan dia menjadi huru hara. Mungkin saat itu hanya terjadi dikalangan rekan - ekan seprofesi kami. Tapi saat ini sudah menyangkut taraf manager. Dan yang dia adukan adalah orang - orang di level atas. Dan bukannya dia menyadari kekeliruannya, dia malah menyalahkan orang - orang yang dengan jelas - jelas dia adu. Entah dengan maksud apa. Aku pun bukannya tidak pernah menjadi korban dia, aku pun sering menjadi korban ketajaman lidah dia. Apapun yg aku katakan akan sampai ke orang yang aku maksud. Tak jarang dia mengadukan curhatanku ketika ada masalah dengan si A, dan nanti omonganku akan sampai pada si A, lengkap dari A sampai Z. Aku bukannya tidak merasa sakit hati, aku merasa dikhianati, tapi aku selalu diam, karena aku ga mau ribut. Aku menghormati pertemanan kami, aku merasa aku harus lebih waras ketimbang dia, jadi aku diam saja. Toh aku percaya KARMA itu ada. Tinggal bagaimana dia menyikapi semua ini. akankah dia sadar atau semakin menjadi - jadi. Tapi yang jelas, dia tidak akan pernah mau mengakui kesalahannya. Dia akan melemparkan kesalahan yang dia perbuat ke orang lain.
Tidak hanya sekali dia berbuat seperti ini, ini sudah kali kedua, dia membuat orang - orang bersitegang, dan dengan wajah polosnya dia akan berkata , :
"oh mungkin dia baru melahirkan, masih sensi", "oh mungkin dia salah dengar tadi", "oh mungkin dia takut, karena...."
itulah gaya bicara dia supaya lepas dari kesalahan. Dan sekarang dia kena batunya. Aku tidak berharap lebih, aku hanya berharap dia sadar, bahwa apa yang dia lakukan selama ini adalah salah, dan menyakiti orang lain. Semoga dia sadar, dan bukannya menyalahkan orang lain atas kejadian ini. Masalah yang dia hadapi sekarang adalah akibat mulutnya sendiri yang tidak bisa dia kendalikan. Kalau meminjam istilah anak gaul : "Lemes"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar