Rabu, 23 Januari 2013

Persahabatan

Aku ga ngerti, aku mengenalnya lebih dari 9 tahun. Kupikir aku telah mengenalnya dengan baik. Ku anggap ia seperti saudariku sendiri. Selama 9 tahun pertemanan kami, selama 7 tahun kami berada dalam 1 ruangan, menjalani hari - hari yang sama, melewati peristiwa - peristiwa yang sama, menghadapi masalah - masalah yang sama. Dalam rentang waktu itu pula, aku telah menceritakan hampir semua aktifitas hidupku dengan nya. Aku berfikir, hanya dialah teman ku satu - satunya diruanganku. jadi aku selalu berbagi cerita dengannya dengan harapan, dia pun menganggap aku teman baiknya, sahabatnya tempat berbagi suka dan duka. Namun ternyata harapanku bertepuk sebelah tangan. Berapa kali dia mengkhianatiku dengan menceritakan masalah pribadiku kepada orang lain. Dan ia menganggap masalah pribadiku bak dongeng yang wajib disebarkan kepada seluruh teman kami. Jika dia tidak suka dengan seseorang, ia akan menceritakan kebenciannya kepadaku, dan membuatku ikut membenci orang tersebut, dikarenakan aku merasa simpati dan solider, tak rela teman baikku diperlakukan tidak baik oleh orang lain. Ia akan bercerita dengan menghiba, seolah dia sedang dizalimi oleh orang tersebut. Dan ketika aku percaya dengan omongannya dan aku menjaga jarak dengan orang tersebut, dia akan bersikap manis terhadap orang itu, seolah - olah dia tidak pernah mencerikan hal yang buruk tentang orang itu dan bagaimana perasaan dia terhadap orang tersebut. Dan ketika hal itu terjadi kepadaku, aku menceritakan tentang kelakuan buruk seseorang, ia akan menyakinkan ku dengan penuh semangat, bahwa aku ada dipihak yang benar, dan aku harus mengambil tindakan terhadap orang tersebut. Dan bodohnya aku percaya itu. dan aku melakukan apa yang dia katakan, semisal aku menegurnya dengan keras, atau aku mendiamkannya. Dan anehnya saat itu terjadi, lagi - lagi dia akan berlaku sangat simpatik pada orang yang kubenci seolah - olah dia tidak pernah berkata apa - apa tentang orang tersebut.


Ketika kita mulai mengenal seorang teman yang selalu memakai barang branded, walau masih dalam kategori KW, dan aku mulai tertarik untuk membeli barang - barang tersebut, dia berkata kepadaku : "mau harga berapapun, tetap aja itu barang palsu, barang kawe, sayang - sayangin. ketauan lo beli tas dengan harga ratusan ribu tapi bukan kawe" 
dan lagi - lagi aku mengiyakan.... ternyata ketika aku berhenti membeli barang - barang tersebut, dia malah dengan gencarnya membeli barang - barang tersebut. Tapi aku hanya diam. itu bukan urusanku. 
Ketika aku mulai berbisnis online bermodalkan blackberry dan sosial media, aku menyarankannya untuk melakukan hal yang sama denganku ketika ia ingin mulai berrbisnis, dia berkata : "gue ga berminat ke situ, gue lebih tertarik di bisnis kuliner" 
Ku support apapun kepustusan dia, toh sebagai teman aku hanya bisa menyarankan. Ternyata ketika aku memulai usahaku dan terlihat olehnya suatu hal yang menjanjikan, dia mengikuti langkahku... Bukan masalah dia berbisnis secara online, tapi cara dia berbicara seolah dia tidak tertarik, tetapi diam - diam dia melakukan hal itu juga. Orang macam apakah yang seperti ini? Masih layakkah aku menganggapnya sebagai teman? Masih banyak lagi hal - hal yang menyakitkan yang dia lakukan terhadapku. Aku hanya bisa diam. Karena aku menghargai persahabatan kita, walau dia tak pernah menganggap aku sahabatnya. Mungkin aku bagi dia hanyalah seorang pecundang yang bisa dimanfaatkan olehnya untuk mencapai keinginannya. Dia pandai memainkan perasaan ku, mengaduk - aduk emosiku, dan dia manfaatkan sebagai kekuatan untuk menjatuhkan aku. 
Seorang teman pernah berkata kepadaku :" Aku tidak takut dengan orang jahat, tapi aku  takut dengan orang yang berpura - pura baik". Itulah yang aku takutkan....

Saat ini aku tengah merencanakan untuk pergi dari lingkungan itu, lingkungan dimana yang menurutku makin tidak sehat. Aku tidak mau berprasangka buruk terhadap orang lain, tapi aku juga menyayangi hatiku, aku tidak mau, perasaanku yang tulus dimanipulasi sedemikian rupa. aku bukan pecundang, walau mereka berkata ya... Aku hanya ingin hidup tenang. Sudah cukup aku mengenal karakter manusia seperti itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar